Selasa, 16 Desember 2008

Siapakah Yesus?

Yesus Sang Radikal (bahan Bibel Study PMK Medan)
Pendahuluan
Sangat sulit untuk melukiskan tentang Yesus sebagai gabungan menusia dan ilahi. Apalagi di dalam makalah pembahasan sederhana seperti ini. Sehingga kita harus berpihak kepada satu segi dari kehidupan Yesus untuk bisa mengerti secara mendalam dari segi tersebut. Memang ini mengakibatkan kita tidak bisa mengerti secara objektif tentang Yesus. Tetapi orang-orang yang berusaha bersikap objektif terhadap Yesus tidak mengerti persoalan yang ada di dalam diri Yesus (R.T France).
Itu juga yang menjadi tujuan pembahasan ini yakni melihat Tuhan Yesus yang adalah Yesus sang Radikal. Pembahasan ini ingin melihat bagaimana Tuhan Yesus mematahkan sebuah tradisi yang sudah membentuk sebuah sistem di dalam kehidupan orang Yahudi melalui misinya. Karena keterbatasan waktu, saat ini kita akan membahas hanya beberapa bagian tentang Yesus sang Radikal.

1. Yesus dari Nazaret dan persiapan misiNya.
Sesuai dengan Nubuat para nabi Yesus dibesarkan di Nazaret (Matius 2:23). Tujuanya adalah agar orang memanggil Yesus dari Nazaret (Mat 21:11). Pertanyaanya kenapa harus disebut Yesus dari Nazaret? Nazaret terletak di Galilea (Palestina Utara) yang berarti kota setengah kafir menurut pandangan orang Yahudi sejati di Yerusalem (bd Yesaya 8:23/9:1 yaitu Galilea yang kafir (TL) ) tetapi dari daerah ini muncul lebih banyak penentang Romawi. Nazaret merupakan sebuah desa kecil hanya sedikit lebih besar dari sebuah desa. Sehingga wajar Natanael berkata mungkinkah sesuatu datang dari Nazaret? Ini merupakan suatu ironi bagi orang Isarel bahwa Yesus datang dari Nazaret. Karena ditambah lagi pemahaman akan Yesus adalah keturunan Daud yang datang dari Betlehem. Sebagai si Tukang kayu dari Nazaret tidak mudah bagi Yesus untuk meyakinkan bangsanya bahwa dialah sang juru selamat. Sehingga ketika ia pertama sekali mengajar dan berkata bahwa ia adalah Mesias ia ditolak oleh orang-orang satu kampungnya. Yang sangat mungkin mengenal dia sejak dari kecil.
Tetapi yang menarik adalah penolakan ini menjadi awal perjalanan misi Tuhan Yesus. Ini memberikan gambaran apa yang akan terjadi di dalam pelayanan Tuhan Yesus pada waktu yang akan datang. Kadang Ia akan disambut secara antusias dan tidak jarang akan ditolak (bd. Luk 11:23, 9:50, Mat 10:34-36). Sepertinya tidak ada tempat untuk netral (golput). Eduard Schweaer menyatakan dengan tegas yakni bagaimanapun juga kenetralan tidak mungkin sebagai suatu sikap defenitif, sebab panggilan-Nya sedemikian rupa sehingga siapapun yang berusaha bersikap netral telah menolaknya. Kita berada pada pilihan mencap Yesus sebagai seorang penipu atau Yesus yang memiliki kuasa. Atau menerima wibawa Yesus seperti wibawa Allah atau berkata Yesus telah menghujat Allah yang harus dibinasakan.
Tanggapan akan Yesus merupakan awal sebuah perpecahan dan perusak kedamaian. Perusak kenyamanan. Mendatangkan masalah. Yesus memang dikenal sebagai orang yang penuh belas kasihan, mengasihi musuh, menyerang pemerasan dan ketidakadilan, mengajak anak kecil (bd Mat 11:28) ini merupakan segi yang sangat indah dari Tuhan Yesus. Tetapi kita tidak bisa menutupi Yesus dari segi yang lain yakni ketika ia mau dibunuh orang lain, orang lain mau mati demi diriNya. Kenapa mereka mau mati demi Yesus? Yesus memang cukup dinamis dan controversial sehingga melahirkan revolusi paling langgeng yang pernah di alami oleh dunia (R.T France).
Percobaan di Padang Gurun.
Sebelum Tuhan Yesus memulai misinya, Lukas dan Matius menyebutkan Ia menjalani tiga pencobaan (Mat 4:1-11, Luk 4:1-13). Ketiga pencobaan ini saling terkait dan ketiga-tiganya bertujuan mempertimbangkan apa saja yang akan dikerjakan di dalam misi Yesus, dan bagaimana anak Allah seharusnya berhubungan dengan Bapa. Hubungan inilah yang paling penting. Karena hubungan ini akan mengambarkan apakah Yesus akan memakai kuasaNya yang ajaib untuk memuaskan rasa lapar-Nya, ataukah menerima masa berkekurangan ini dengan penuh percaya sebagai kehendak Bapa-Nya. Apakah Yesus akan memaksa Bapa-Nya bertindak dan menuntut peyelamatan secara ajaib, ataukah yakin bahwa bantuan Bapa-Nya nyata dan tersedia, tanpa perlu mengujinya. Atau apakah Yesus akan mengambil jalan pintas menuju pengenapan tujuan Mesianis, walapun harus tidak setia kepada Bapa-Nya? Iblis sebenarnya tidak meragukan kedudukan Yesus tetapi Iblis mencobai Dia agar menyalahgunakanya. Namun ternyata Yesus mengutamakan hubungan pribadi dengan Bapa-Nya dengan sebuah ketaatan dan kesetiaan sampai pada kayu salib.
Di samping itu cobaan ini ternyata memberikan kesempatan kepada Yesus untuk lebih mengerti misi-Nya secara praktis. Keberadaan-Nya sebagai Mesias dan Anak Allah bukanlah rumusan bagi keberhasilan yang gemilang melainkan dasar bagi kepercaayan dan ketaatan tanpa pamrih, meskipun itu harus berakhir di kayu salib.

2. Kerajaan Allah
Ketika orang banyak berbondong-bondong ingin menjadi murid Kristus, Yesus menuntut sebuah kesetiaan penuh yakni meninggalkan segala miliknya dan menjadi pengikut Yesus (Lukas 14:26-27). Kita pasti bertanya kesetiaan yang mutlak tersebut dituntut Yesus untuk melakukan apa? Kalau secara umum para murid dan orang banyak berharap Yesus akan menjadi Raja. Kenapa kita bertanya demikian Karena harapan akan datangnya anak Daud sebagai raja itu ditolak oleh Tuhan Yesus. Jadi misi apakah yang sedang Tuhan Yesus kerjakan? Kalau bukan misi pembebasan. Tetapi meskipun demikian pada bagian lain Ia tetap banyak berbicara tentang ‘kerajaan’. Jadi kerajaan apa yang Tuhan Yesus maksudkan? Bagaimana bentuknya?
• Yesus dan kemerdekaan Yahudi
Markus memberi tahu kepada kita bahwa di dalam permulaan pelayanan Yesus di Galilea ia berkata “waktunya sudah dekat, kerajaaan Allah sudah dekat (Mark 1:15)”. Ucapan seperti ini di dengar oleh orang yang sedang tertindas secara politik dan menginginkan kebebasan dari kolonialisme Romawi tentunya cepat terangsang untuk menanggapinya. Sehingga jangan heran mereka langsung menyimpulkan ‘kedatangan anak Daud yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi’. Bahkan sampai pada akhir kematian Yesus di kayu salib para murid masih mengharapkan pembebasan Israel dari penjajahan orang Romawi (Luke 24:21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.) bukan sampai disitu saja harapan itu juga hampir tidak pernah hilang dari para Rasul (Kis 1:6).
Markus mencatat bahwa orang banyak yang berbondong-dondong datang bukan sekedar karena kerinduan untuk mendengar khotbah. Ketika Yesus berkata ‘seperti domba yang tidak bergembala’ ini merupakan ungkapan yang sama di Perjanjian lama bagai tentara tanpa panglima (1 Raj 22;17, Bd Bil 27:17). Sehingga sewaktu Tuhan Yesus memasuki Yerusalem, Yesus di sambut seperti sang raja yang pulang berperang dan memasuki tahtaNya di Yerusalem, ‘hidup anak Daud, di berkatilah orang yang datang atas nama Tuhan’. Tetapi semua harapan itu hanyalah sebatas harapan karena mereka menyadari bahwa Ia belum juga menganut cita-cita kebangsaan mereka. Jadi jangan heran, sebelum minggu itu juga berakhir mereka membiarkan Yesus dibunuh. Sehingga bisa kita simpulkan Yesus bukanlah seorang tokoh politik yang akan membawa kebebasan orang Isarel dari Romawi.
• Yesus: Kematian, perdamaian dan pengampunan
Yesaya 53 menebuatkan tentangan penderitaan yang harus di alami oleh Hamba Tuhan. Ia harus mati menjadi korban bagi orang lain. Karena kematian-Nya menjadi tebusan bagi mereka sama seperti harga tebusan membebaskan seorang tawanan (Mrk 10:45, 14:24). Hamba Tuhan itu dilukai karena dosa-dosa kita, didera karena kejahatan kita, “masuk bilangan orang jahat” dan memikul dosa orang banyak, sehingga Ia akan membenarkan orang banyak. Jelas kematian Yesus bukan soal politis yang di capai melalui kematiaan syahid melainkan kematian yang membawa kebebasan bagi orang berdosa. Kebebasan yang akan mendamaikan manusia dengan Allah.
Apa yang di lakukan oleh Tuhan Yesus bukanlah hanya untuk golongan orang Yahudi saja. Siapa saja diterimaNya asal orang itu menyadari kebutuhanNya akan pengampunan Dosa dan hubungan yang baru dengan Allah. Dengan demikian secara bertahap umat baru akan muncul yakni perhimpunan orang-orang yang telah di ampuni yang terdiri dari setiap golongan. Sehingga tembok-tembok pemisah adat istiadat, golongan sosial, agama, ras menjadi tidak relevan lagi. Sehingga dengan demikian harus kita pahami setiap orang yang menjadi murid Yesus bukanlah karena status atau diri mereka, tetapi mutlak karena Yesus mati bagi mereka dan mereka menjadi milik Yesus. Dia sendirilah menjadi kunci perdamaian dan pengampunan itu dan untuk itulah maksud kedatangan-Nya.
Sekarang istilah kerajaan Allah yang ingin Tuhan Yesus bangun jelas adalah bukanlah kerajaan yang memiliki tatanan pemerintahan yang baru. Tetapi dimana saja Allah berkuasa, kedaulatanNya diterima dan kehendaknNya dilakukan disitulah kerajaan Allah. Dalam arti yang sepenuhnya, kerajaan Allah berarti semua orang di mana saja mengakui Allah sebagai Raja.
Jadi bagi orang yang dosanya telah diampuni melalui Yesus, kerajaan Allah telah datang. Tetapi sampai semua bangsa mengakui kedaulatanNya dalam hal inilah Yesus berkata bahwa pemerintahanNya sebagai sesuatu yang akan datang. Kita masih berdoa ‘datanglah kerajanMu’ tetapi jangan hanya memikirkan masa depan itu, karena pada saat ini juga kita harus mengakui ‘Engkaulah yang empunya kerajaan’. Karena di dalam injil banyak yang dinyatakan Tuhan Yesus tentang kerajaan yang berhubungan dengan yang kelihatan saat ini, yakni sewaktu kuasa jahat ditaklukan dan manusia menemukan bahwa pelayanan Yesus membuka jalan bagi hubungan yang benar dengan Allah. Itulah kerajaan yang hendak didirikan Tuhan Yesus.

3. Masyarakat
Di dalam perjalanan pelayananNya Yesus banyak bersentuhan dengan kehidupan masyarakat. Hal yang menarik di dalam perjalanan itu adalah bagaimana injil menceritakan tentang Tuhan Yesus yang melalui pergaulanNya, tanggapaNya dan tindakaNya yang menimbulkan keluhan dari pihak orang farisi, ahli Taurat, para murid, dan para bangsawan. Apalagi masyarakat yang pada waktu itu ditata secara kaku menurut golongan sosial, ras dan harta. Sehingga tidak jarang membuat para murid sendiri tercengang apalagi di antara para penguasa. Tetapi inilah yang menjadi ciri khas Tuhan Yesus, yakni senang untuk membalikan ukuran yang biasa berlaku. Yang jelas Ia selalu membela pihak yang tertindas.
Kita akan melihat beberapa kasus tindakan Tuhan Yesus di dalam kehidupan masyarakat.

1. Lukas 21:1-4. Siapakah yang lebih banyak memberi?
Di dalam bait Allah terdapat kotak untuk memberikan persembahan, yang diperuntukan untuk tempat untuk memberikan persembahan bagi orang saleh sebagai pemeliharaan bait Allah dan sebagai amal mereka. Mereka menyumbang dengan berlimpah sampai-sampai dikeluarkan undang-undang untuk membatasi jumlah sumbangan. Orang-orang yang menyumbang senang membangun sebuah reputasi murah hati atau memberi banyak dan kelihatannya tidak ada rahasia tentang jumlah uang yang mereka berikan. Di antara orang yang memasukan sumbangan itu, ada seorang perempuan miskin. Kita mungkin bertanya darimana Tuhan Yesus tahu ia adalah seorang perempuan miskin, yang paling mungkin adalah dari pakaian dan statusnya sebagai seorang janda. Dan karena yang memberikan sumbangan pada umumnya orang kaya, maka perempuan janda miskin ini sangat menonjol. Sumbangan 2 peser itu dijawab oleh Tuhan Yesus bahwa perempuan itu memberi lebih banyak dari pada semua orang itu, karena ia memberi di dalam keterbatasannya. Ucapan ini sungguh bertentangan dengan apa yang dipikirkan orang yang memberi persembahan pada waktu itu. Yesus mengubah memberi dilihat dari jumlah yang diberi menjadi memberi yang dilihat dari yang tinggal dari yang kita beri.
2. Matius 18:1-5 Siapakah yang terbesar?
Ketika para murid ingin menuntut senioritas dan bertanya tentang siapakah yang terbesar dari antara mereka, Tuhan Yesus justru menjawab dengan membandingkannya dengan seorang anak kecil. Karena kedudukan sangat penting di dalam Qumran. Di dalamnya supaya setiap orang Israel mengetahui tempatnya dalam masyarakat Allah sesuai dengan rencana yang kekal (1 QS 2: 19-25: Tak seorangpun boleh turun dari tempatnya atau naik ketempat yang lebih tinggi, dari kedudukan yang di peruntukan baginya). Yesus memberi contoh demikian tentunya sangat mungkin berhubungan dengan hal ketergantungan dan kerendahan hati (bd Mark 10:15). Sehingga bagian ini jelas, Tuhan Yesus membalikkan pandangan para murid tentang kebesaran (bd Mat 5:3-12).
3. Lukas 18:9-14 Siapakah yang lebih baik?
Perikop ini ditujukan langsung kepada orang farisi yang merasa dirinya paling benar di hadapan Allah. Tuhan Yesus berkata bahwa doa pemungut cukailah yang didengarkan oleh Allah. Tuhan Yesus mengolok-olok sikap orang farisi yang sombong merasa benar sendiri dan membenarkan pemungut cukai yang terkenal berdosa, koruptor, penindas dan menjadi orang yang di kucilkan di antara orang yahudi. Karena pemungut cukai dianggap melawan Allah dengan berkerjasama dengan pemerintahan romawi untuk mengumpulkan pajak yang ditetapkan pemerintah Romawi. Status pemungut cukai yang dibenci masyarakat justru doanya yang di benarkan oleh Tuhan Yesus. Ditambah lagi pada bagian lain justru Tuhan Yesus bergaul dengan orang-orang yang terkucilkan ini. Bisa kita bayangkan respon orang Yahudi ketika mendengar itu. Marah dan Tuhan Yesus pasti dimusuhi oleh orang-orang yang merasa kedudukannya sebagai orang saleh terancam oleh-Nya.
Sehingga jangan heran orang-orang farisi dan ahli taurat tidak bersedia diberi petunjuk oleh Tuhan Yesus. Orang yang mereka anggap hina itu. Sehingga dengan keras Tuhan Yesus memperingatkan mereka, Matthew 21:31 "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Jadi, jangan heran bawah Tuhan Yesus itu tidak disukai, dianggap sebagai ancaman dan harus disingkirkan.
4. Markus 10:13-16, Matius 15:22-28. Anak-anak, wanita, orang non Yahudi dan orang Samaria.
Orang-orang ini adalah orang yang mengalami diskriminasi di tengah masyarakat. Di mana beberapa bagian hak-hak mereka seperti terabaikan. Anak-anak diangap tidaklah perlu menjadi dewasa untuk mendapat bagian di dalam kerajaannya. Tetapi justru Tuhan Yesus memperlakukan mereka begitu berbeda menerima dan memberkatinya. Bahkan kata memberkati merupakan gambaran yang menyenangkan yang diberikan oleh kata majemuk Yunani yang kuat kateulogein yang tidak muncul di tempat lain di PB. “ia memberkati mereka dengan sangat, berulang kali”
Pada suatu kali seorang perempuan Kanaan sangat menganggu sewaktu mendesak meminta perhatian, tetapi Yesus tidak mengabaikannya, justru Tuhan Yesus berkata ‘hai Ibu besar imanmu maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki’. Yohanes juga mencatat bagaimana Tuhan Yesus bercakap-cakap dengan seorang wanita Samaria. Mereka adalah wanita yang memiliki tembok pemisah dimana mereka diremehkan tetapi hal itu tidak dihiraukan oleh Tuhan Yesus. Tetapi yang lebih penting lagi adalah mereka bukan orang Yahudi. Apa lagi menurut teologia Yahudi bahwa semua orang non Yahudi akan masuk ke neraka dan mereka akan masuk kedalam surga. Sehingga perbedaan ini menjadi tembok pemisah yang paling besar di dalam kehidupan orang Yahudi. Bahkan sampai pada kesimpulan mereka tidak bergaul dengan bangsa lain. Tetapi lagi-lagi dalam hal inipun Tuhan Yesus tidak mau dibatasi. Meskipun memang Tuhan Yesus mengambli fokus kepada orang yang hilang di antara orang Yahudi, tetepi injil juga mencatat tentang iman seorang perwira yang lebih besar dari iman yang pernah Tuhan Yesus jumpai (Mat 8:10).
Bagi Yesus soal ras tidaklah begitu penting tetapi yang penting adalah manusia yang membutuhkan perolongan Allah. walaupun Tuhan Yesus mengakui kedudukan istimewa Israel sebagai umat pilihan Allah tetapi Dia juga tidak mengesampingkan orang non Yahudi (bd Mat 8:11-12). Begitu juga dengan orang Samaria, yang telah berabad-abad bermusuhan dengan orang Yahudi. Kalau dirunut permusuhan saudara ini mungkin tidak cukup waktu untuk melihat siap yang salah dan yang siapa yang benar. Tetapi yang jelas permusuhan itu sangat kental di dalam kehidupan mereka. Tetapi kita mungkin bertanya kenapa ada cerita tentang orang samaria yang baik hati (Luk 10:29-37) dituliskan oleh Lukas, yang sangat mungkin setiap orang yahudi akan tersinggung mendengar cerita itu. Tetapi lagi-lagi Yesus memiliki konsep yang jelas di dalam pelayanan bahwa bukan rasa atau adat istiadat yang penting tetapi manusia yang membutuhkan pertolongan Allah yang lebih penting.
Yesus dan Masyarakat
Dari beberapa kasus di atas kita bisa melihat bahwa Yesus tidak mempunyai tujuan untuk mengubah sistem masyarakat. Tetapi ia memperingatkan bahwa semua kesalahan bukan pada sistemnya tetapi kepada orang yang menjalankanya (bd.Luk 4:16, Yoh 2:1-2, Mat 23:3). Karena sistem sangat mungkin digagalkan oleh sikap yang mementingkan diri sendiri dan keserakahan yang mendominasi di dalam hidup orang tersebut. Tetapi ketika kita belajar bersama Yesus yang mengutamakan hal-hal yang sangat penting tahap demi tahap sistem itu akan berjalan sebagaimana mestinya. Yakni kebenaran dan keadilan Allah tergambar di dalam kehidupan manusia.

4. Murid Yesus
Seorang guru Yahudi bisanya memiliki beberapa pengikut untuk menjadi muridnya. Mrk 1:17-18, Yesus berkata kepada empat orang nelayan ‘ikutlah aku’ dan mereka lalu mengikuti Yesus. Tetapi perbedaannya paling menonjol adalah para murid biasanya memilih siapa guru yang kepada mereka akan mengabdikan dirinya. Namun Tuhan Yesuslah yang memilih mereka ‘bukan kalian yang memilih Aku, Akulah yang memilih kamu (Yoh 15:16).
Pemanggilan para murid
Yesus memulai pelayanan di Galilea dengan mengumpulkan murid-murid yang pertama. Satu hal yang menakjubkan adalah kerelaan mereka meninggalkan saudara-saudaranya dengan satu kata ‘ikutlah Aku’ . begitu juga Matius si pemumut cukai dipanggil yakni ‘mari ikutlah Aku’ (Mat 9:9) dan merekapun seperti tidak dapat menolak panggilan itu.
Para murid tergolong kelompok aneh. Sebagian besar dari mereka bukanlah orang-orang yang kita kenal dan latar belakang yang sangat beragam.
Yohanes dan Yakobus Seorang nelayan anak Zebedeus, suka menguasai dan berambisi tinggi (Mrk 10:35). Tetapi di kenal dekat dengan Tuhan Yesus (bd, Mrk 5:37)
Anderas dan simon Murid pertama, tidak ada informasi tentang Anderas, karena kalah ‘populer’ dari adiknya Simon Petrus. Simon biasanya menjadi murid yang paling menonjol.
Bartolomeus & Tadeus Tidak ada keterangan tentang mereka.
Filipus & Natanel Filipus adalah orang yang semangat untuk melayani dari pada Natanael tampak lebih ragu-ragu (bd, Yoh 1: 45-49)
Thomas Seorang nelayan, dia Pesimis atau sulit percaya. (bd, Yoh 20:27)
Simon Zelot Dari kaum pemberontak (kaum zelot), yang sangat tidak di senangi oleh orang Romawi.
Matius Pemungut cukai, mungkin paling berpendidikan sehingga bisa memiliki jabatan pemungut cukai. Tetapi dia adalah orang berdosa dimata orang yahudi.
Yudas Iskariot Satu-satunya yang bukan orang Galilea, namanya ditafsir orang dari kariot. Di perkirakan dia dari Yehuda yakni Kariot-Hezron Yehuda selatan.
Bersama 12 murid inilah Tuhan Yesus mencurahkan seluruh perhatianNya. Makan bersama-sama dengan mereka, karena harapan besar dipercayakan kepada mereka karena mereka inilah yang akan menjadi pemimpin Kristen pertama.
Inti kemuridan
Hal yang paling penting di dalam kemuridan mereka adalah ‘menyertai-Nya’. Kita melihat Tuhan Yesus banyak mengajar mereka, banyak memberikan waktu untuk mempersiapkan mereka mewartakan misi Tuhan Yesus di dunia ini. Injil menceritakan, ternyata mereka cukup lamban di dalam belajar bahkan sampai hari terakhirpun mereka belum mengerti apa yang dikerjakan Guru mereka (Mrk 8:17-21, 9:10,32, Yoh 12:16). Tetapi Tuhan Yesus terus mengajari mereka sampai pada mereka menjadi otak teologi di balik gerakan ideologis yang paling berhasil di dunia (bd Kis 2:14-40). Inti ideologi mereka adalah Yesus yang mereka sertai dan rahasia kerajaan Allah adalah hubungan yang hidup dengan Dia.
Apa yang dituntut Tuhan Yesus dari seorang murid?
1. Komitmen total
Arti seorang murid adalah penyerahan diri secara mutlak kepada Yesus (Mat 6:24, Mat 10:37, Luk 9:62). Yesus menuntut komitmen total. Menjadi murid Kristus berarti menyerahkan hidup kita Mark 8:34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Seakan-akan turut serta dalam suatu pawai pemakaman, yakni pemakaman kita sendiri, seakan-akan melihat penjahat menuju tempat hukuman mati dengan membawa salibnya sendiri dan diolok-olok. Sehingga kemuridan itu tidak berlaku bagi pengecut atau orang yang terlalu memikirkan apa yang di pikirkan orang lain tentang mereka. Tetapi meskipun demikian yang menarik adalah ada orang yang meninggalkan jalanya dan mengikut Dia, sehingga benarlah Yesus adalah orang yang harus diperhitungkan.
2. Lain dari yang lain
Kalian adalah garam dan terang dunia (Mat 5:13-16). Seorang murid Kristus pasti hidupnya akan mencolok, berbeda dengan orang lain. Garam dan terang yang akan kelihatan di dalam kerendahan hati, kepekaan, kelemahlembutan (mengalah dari orang lain), keinginan untuk melakukan yang benar, kemurahan hati, kesucian, sikap mau berdamai dan kerelaan untuk menerima celaan dan penganiayaan sebagai harga kesetiaan kepada Allah. Tentunya ini semuanya bukalah cita-cita orang hidup di dunia sekuler. Apalagi pada umumnya mereka bukanlah orang-orang yang disukai oleh orang lain (Mat 10:16-25, Yoh 15: 18-21). Tetapi meskipun demikian seorang murid akan berbahagia (Luk 6:22-23, bd Mat 5:38-48, 18;21-22). Karena kasih dan pengampunan akan menggoncang banyak orang dan itulah yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus.

3. Saling mengasihi
Sewaktu perjamuan terakhir Tuhan Yesus dengan para murid Ia memberikan perintah yang baru yakni saling mengasihi (Yoh 13:34-35). Yesus tidak memberikan tempat untuk perkara mementingkan diri sendiri. Bahkan ketika para murid menginginkan siapa yang terbesar Tuhan Yesus berkata siapa yang ingin menjadi terbesar menjadi seorang pelayan (Mrk 10:42-44).
4. Menempatkan Allah paling utama
Kehidupan seorang murid haruslah tertuju kepada Allah. Ucapan bahagia menggambarkan orang yang mengutamakan Allah. Itulah bagi sikap tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak mementingkan diri sendiri adalah kasih. Hanya dengan cara seperti itulah seseorang benar-benar dapat mengasihi musuhnya, dengan senang hati bisa menerima kedudukan yang rendah, walaupun dia lebih senior.
Tuntutan seorang murid di atas adalah sangatlah berat. Tidak mengherankan beberapa calon murid gagal menjadi murid Kristus. Sehingga Tuhan Yesus (Luk 14:25-33) memperingatkan mereka sebelum menjadi murid Kristus. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan zaman sekarang ini dimana Kekristenan hanyalah sebatas status.

5. Mujizat
Mendengar kata muzijat Matthew Arnold berkata tidak terjadi. Dan mungkin di antara kita juga setuju dengan pandangannya tersebut. Namun beberapa para teolog merasa itu merupakan sebuah kekeliruan besar karena mujizat itu bukanlah sebuah unsur yang ditambahkan oleh para penulis injil. Tetapi malalui itu firman diajarkan dan mungkin tanpa itu pengajaran yang ingin di sampaikan tidak berarti. Bahkan mereka sepakat Tuhan Yesus termasyur karena mujizat-mujizat yang dilakukanNya. Orang Yahudi tidak meragukan mujizatNya tetapi menyatakan bahwa Ia membuatnya dengan kuasa sihir (bd. Mat 12:24).
1. Mujizat Penyembuhan.
Mujizat penyembuhan merupakan jenis mujizat yang paling umum dilakukan oleh Tuhan Yesus. Yesus dikenal dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan memiliki kuasa atas penyakit tersebut. Bahkan Ia dikenal dapat menghidupkan orang meninggal (Mrk 1;32-34, 3:7-12, Mrk 5:35-43, Luk 7:11-16, Yoh 11:1-44). Tetapi yang menarik dari bagian ini adalah kenapa Tuhan Yesus sebegitu sering melakukan mujizat penyembuhan? Hal ini dapat kita lihat melalui panggilan Yesus sendiri yakni hadir bagi orang miskin, terpinggirkan, orang buta dan yang terpenjara. Karena mereka (orang-orang yang sakit kusta dsb) merupakan sebagian besar orang yang dikucilkan pada waktu itu sehingga Yesus menargetkan mereka. Yesus ingin membawa mereka kembali kepada status yang baru (bd. Mrk 1:40)
2. Pengusiran setan
Pengusiran kuasa roh jahat bukanlah sesuatu hal yang baru bagi orang Yahudi. Tetapi hal menarik dari pengusiran setan adalah kuasa yang digunakan di dalam pengusiran roh jahat tersebut. Ketika para pengusir setan lainnya mengunakan mantra, ramuan, cincin-cincin, dan asap, tetapi Tuhan Yesus hanya mengunakan sepatah kata (bd.Luk 8:28-33). Sangat mungkin ini merupakan suatu hal yang baru bagi orang Yahudi karena dengan wibawa dan kuasa Ia memperintahkan roh-roh jahat keluar, dan mereka taat kepadanya (Mrk 1:27).
3. Terhadap alam
Tuhan Yesus juga menunjukan kuasaNya kepada alam. Yesus memperlihatkan bagaimana Ia berkata kepada badai dan seketika itu juga badai itu surut dan Yesus dapat berjalan di atas air. Tetapi perlu kita pahami bahwa semua mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus bukanlah dengan sengaja untuk dipamerkan kepada orang banyak, tetapi merupakan tanggapan yang wajar dari keadaan tersebut. Merupakan reaksi sepontan terhadap sesuatu kebutuhan nyata yang Ia lihat. Bahkan kadang ia menghindar untuk melakukannya dan berkata jangan menceritakan tentangan apa yang Ia telah lakukan.
Fakta atau fiksi
Dengan demikian bagaimana pandangan kita dengan mujizat apakah fakta atau fiksi? Jawaban kita akan sangat di pengaruhi oleh pandangan kita tentang dunia. Apakah kita hanya memandang sejarah dan kehidupan sebagai rangkaian pristiwa yang terjadi sesuai dengan hukum alam atau kita terbuka sebagai sesuatu realitas yang lebih luas? Kisah tentang Yesus tidak dapat di terangkan melulu secara sekuler, tanpa unsur supra-alamiah. Karena kalau kita memersoalkan terjadinya peristiwa ini dan itu, tidak mungkin kita menjelaskan Yesus tanpa mengaku bahwa mujizat dapat dan pernah terjadi.
Di samping itu hal yang lebih penting adalah kita bertanya apa yang diajarkan atau di perlihatkan tentang Yesus di dalam misinya di dalam mujizat tersebut. Mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dengan kuasa Allah (Luk 11:20-22, Mrk 1:24, bd Mrk 5:7, Luk 4:41). Jadi mujizat adalah bagian dari kemenangan Allah. Orang-orang di Nain, setelah terjadi Mujizat yang spektakuler, menyatakan ‘Allah sudah datang untuk menyelematkan umatNya’ (Luk 7:16, bd 9:43, Mat 12:23). Para murid bertanya, siapakah sebenarnya orang ini ketika melihat Ia menenangkan angin ribut. Atau Petrus yang ketakutan ketika melihat jala yang penuh dengan ikan (Luk 5:8-9). Jadi dengan demikian Mujizat harus diartikan sebagai kedatangan hari kemenangan Allah dan juga bukti kedudukan istimewa Yesus sebagai Dia yang diutus Allah, Sang Mesias. Atau mengakui wibawa Yesus. Namun mujizat itu sendiri tidaklah cukup untuk mengenal siapakah Dia. Karena mujizat itu juga hanyalah sebagian dari pelayanan Yesus dan wewenang khas yang ia perlihatkan tetapi tentunya Dia jauh lebih besar dari itu. Iman yang di dasarkan mujizat saja terlalu dangkal sebagaimana berulang kali dikatakan oleh Yohanes (Yoh 2:23-25, 4:48, 6:26, 20:29), dan mungkin itu sebabnya Yesus keberatan kalau berita mujizat-Nya tersebar terlalu luas.

Penutup
Jadi siapakah Yesus? Mungkin jawaban kita akan sangat bervariasi. Tetapi satu hal yang harus kita pahami Dialah Mesias yang menjadi penebus dosa sebagai perdamaian bagi seluruh dosa umat manusia. Mengenal Yesus Sang Radikal semoga bisa menolong kita untuk menjadi seorang murid-Nya yang sejati. Yang akan diejawantahkan di dalam seluruh aspek hidup kita sebagaimana Tuhan Yesus menceritakan itu kepada kita di dalam kebenaranNya.

Sumber:
R.T France Yesus Sang Radikal (Potret manusia yang di salibkan), BPK Gunung Mulia 2004.

Bacaan:
1. Lee Strobel Pembuktian atas kebenaran Kristus (the case of Christ), Gospel Press 2002
2. Donal Guthrie Teologia Perjanjian baru 2, BPK Gunung Mulia 2001.
3. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini.
4. Tafsiran Alkitab Masa kini.

Kelompok Kecil

Pendahuluan.
Visi pelayanan mahasiswa hadir untuk membentuk seorang pemimpin yang berkarakter seorang murid Kristus. Seorang murid yang bukan saja mengerti akan firman Tuhan tetapi seorang murid yang melakukan firman Tuhan di dalam hidupnya (Matius 23:1-3, Matius 6: 5-8). Pelayanan mahasiswa bukan tempat pembentukan seorang Farisi atau seorang yang tidak mengenal Tuhan. Tetapi seseorang dimana firman itu dapat hidup di dalamnya atau yang tidak hanya menghabiskan bahan.
Dalam rangka pembentukan itulah maka pelayanan mahasiswa menempatkan pemuridan yang intensif, progresif dan interkatif di dalam kelompok kecil menjadi ujung tombak pelayanan. Kelompok Kecil harus menjadi agenda utama di dalam pengerjaan visi pelayanan mahasiswa. Karena harus kita pahami bahwa pelayanan mahasiswa lahir dari kelompok kecil. Sehingga sebagai PKK kita harus mengetahui filosofi dan esensi kelompok kecil di dalam pelayanan mahasiswa.

Pembahasan
Esensi Kelompok Kecil adalah Pemuridan.
Pemuridan merupakan proses memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus (Kolose 1:28-29). Terjemahan lain untuk “kesempurnaan” adalah “dewasa.” Dari kata Yunani teleios. Dalam Septuaginta, kata ini digunakan untuk menerjemahkan kata-kata Ibrani syalem dan tamim. Keduanya menyatakan gagasan totalitas. Kata ini digunakan untuk hal “berpaut kepada Allah dengan sepenuh hati” (1 Raj 8:61; 11:4). Juga di gunakan untuk “hidup dengan tak bercela di hadapan Tuhan” (Kej 6:9; Ul 18:13). Dengan kata lain, percaya penuh kepada Allah dan taat penuh kepada firman-Nya adalah sasaran seorang murid.
Kata “dewasa” juga digunakan dalam hal yang sama seperti yang dinyatakan Rasul Paulus di dalam Kolose 4:12, “orang-orang dewasa” (Yun. teleoi) digambarkan sebagai orang yang “berdiri teguh, … dan yang berkeyakinan penuh dengan segala yang dikehendaki Allah.” Dengan kata lain, taat penuh dan percaya penuh hanya kepada kehendak Allah. Jadi, “dewasa dalam Kristus” berarti sepenuhnya mengorientasikan diri, pikiran, perasaan, dan perbuatan – pada kehendak Allah. Dan ini sesuai dengan arti kata “murid” sendiri. Dari kata Ibrani talmid atau limud dan Yunani mathetes. Artinya, bukan sekedar pelajar, tetapi pengabdi.
Jadi, pemuridan adalah proses menanamkan dan membangun orientasi diri dan hidup setiap orang percaya kepada kehendak Allah semata. Atau, proses mengisi dan memenuhkan hatinya dengan tekad Kristus sendiri: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34).

Visi Kelompok Kecil: Murid yang Memuridkan.
Murid yang akan memuridkan adalah visi kelompok kecil. Kelompok kecil melihat bahwa melalui satu komunitas kecil yang kuat akan melahirkan individu yang akan mewujudkan visi Allah sampai kepada visi dunia yakni semua bangsa menjadi murid-Nya (Matius 28:19-20).
Kelompok kecil meneladani yang Tuhan Yesus lakukan kepada 12 muridnya melihat luasnya pelayanan dunia ini (Matius 9:35-10:1 bd. Mark 1:17). Tuhan Yesus di dalam menyelamatkan dunia memilih 12 Rasul untuk di bentuk secara intensif selama 3 tahun. Dan 12 Rasul inilah yang akan menjadi alatnya di dalam mewartakan injil kerajaan Allah itu keseluruh dunia (bd. Kis 1:8).
Di samping itu kelompok kecil juga terbukti sangat efektif sebagai sarana untuk pembentukan seorang murid. Bahkan beberapa tahun terakhir ini banyak gereja dan lembaga pelayanan keristen mulai mengembangkan metode ini untuk pembinaan jemaat. Kita bisa melihat beberapa keunggulan kelompok kecil sebagai sarana pemuridan.
1. Materi pengajaran/Pembinaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan/tingkat pertumbuhan anggota kelompok kecil.
2. Kelompok kecil memungkinkan setiap anggota untuk aktif dalam penggalian dan diskusi.
3. Pendampingan pemimpin kelompok dengan anggota kelompok dapat dilakukan dengan intensif.
4. Suasana kelompok kecil dapat membawa setiap anggota untuk menemukan suatu komunitas untuk saling berbagi, saling memperhatikan, saling mendorong, saling menegur, dalam rangka pertumbuhan bersama dalam kebenaran.

Apa yang di kerjakan di dalam Kelompok Kecil.
Di dalam kelompok kecil harus terjadi adanya proses bimbingan, pengajaran, dan pendisiplinan yang bersifat personal, kontinual, dan progresif (Bd Yoh 15:1-8). “Tiap-tiap orang kami (senantiasa) nasihati dan tiap-tiap orang (senantiasa) kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kolose 1:28-29) “Ajari” di sini bukan cuma menjelaskan pokok-pokok kekristenan, tetapi juga melatih dan mendisiplin perilaku keseharian, sehingga selaras dengan perilaku Tuhan Yesus Kristus sebagai teladan utama. Sehingga di dalam kelompok kecil ada transfer hidup dari seorang pemimpin kelompok kecil kepada anggota kelompok kecil. Dan juga sesama anggota kelompok kecil dapat saling menguatkan dan meneguhkan untuk pertumbuhan bersama.
Kita juga dapat belajar dari jemaat mula-mula bagaimana mereka teguh dan kuat di dalam iman mereka ketika mereka tekun di dalam pengajaran rasul-rasul , berdoa, bersekutu dan bersaksi bagi sesama (Kis 2:41-47). Ke empat komponen inilah yang harus terus kita kerjakan di dalam pemuridan di dalam kelompok kecil dalam rangka pembentukan karakter seorang murid. Tuhan Yesus juga di dalam pelayanan bersama 12 Rasul melakukan hal yang sama mengajar mereka, bergaul dengan mereka, mengajari mereka berdoa, dan mengutus Para Rasul untuk bersaksi.
Tetapi di atas semuanya itu sebagai anggota kelompok kecil kita harus memahami di dalam kelompok kecil kita di bentuk dan dituntut menjadi seorang murid yang mau mengikut, menyangkal dirinya, dan memikul salibnya untuk mengikut Yesus (Luk 14: 26-27). Di bina di dalam kelompok kecil dibutuhkan sebuah komitmen dan kesetiaan untuk terus belajar bertumbuh menjadi seorang murid. Karena keberhasilan pembentukan itu sangat ditentukan bagaimana komitmen anggota kelompok kecil untuk bertumbuh di dalam kelompok kecil.

Penutup
Sebagai seorang murid maka sangat dibutuhkan ketaatan dan kesetiaan untuk mendengar suara-Nya (Yesaya 50:4). “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid”.


Sumber:
1. Sutrisna Visi Pemuridan, Litratur Perkantas Jabar 2006.
2. Agustinus Titi, Kuasa Kelompok Kecil Pemuridan , Saint Andrew’s Ministry 2007.
3. Kumpulan Makalah Kelompok Kecil, Perkantas.

Alumni

Alumni dimanakah semangatmu??
Oleh: prasasti Perangin-angin
Dunia alumni berbeda dengan dunia mahasiswa. Ya, itu jelas berbeda. Di dunia alumni kita dituntut untuk memikirkan perut yang sejengkal ini, sedangkan di dunia mahasiswa kita dituntut memikirkan study. Di dunia alumni kita dituntut jadi super sibuk, sedangkan waktu mahasiswa masih banyak waktu untuk tidur siang, ya enggak. Sehingga tak jarang waktu untuk mimpin kelompok pun tidak “diketemukan”. Memang dunia alumni berbeda dengan dunia mahasiswa. Karena waktu mahasiswa, waktu untuk memimpin kelompok mudah ‘diketemukan’.
Perbedaan ini sangat berimbas dengan bagaimana kita melayani. Melayani di mahasiswa dan di alumni menjadi berbeda. Perhatikan sewaktu mahasiswa mengebu-gebu versus alumni yang mengelak-elak. Sewaktu mahasiswa rela berkorbanya versus alumni sudah mulai perhitungan dengan waktu memimpin kelompok kecil, menjadi pengurus atau memerhatikan pelayanan apalagi bermisi. Waktu mahasiswa integritas itu nomor siji sewaktu alumni sudah mulai berkompromi atau dengan kata lain menuju loro atau papat. Sewaktu mahasiswa terasa singkat 30 menit saat teduh versus sewaktu alumni 5 menit terasa 1 jam.
Perbedaan ini bisa kita tanggapi dan kita diskusikan. Memang saya melihat hal ini merupakan kecenderungan secara umum yang terjadi di dalam pelayanan kita saat ini. Harus kita akui juga ada beberapa alumni yang tidak berbeda sewaktu masih mahasiswa dan sesudah alumni, saya pikir itu bisa menjadi model kita berubah. Tetapi realita secara umum ini penting kita renungkan dan bertanya kepada diri kita sendiri, mengapa semangat saya sewaktu mahasiswa itu luntur? atau pertanyaan yang lebih mendasar, sekarang apa yang saya pikirkan tentang hidup bersama Tuhan?
Sewaktu mahasiswa kita sering berbicara tentang harga seorang murid di dalam melayani. Dengan semangat yang luar biasa kita sanggup mengalahkan tantangan agar kita bisa mengerjakan pelayanan yang Tuhan percayakan. Karena yang kita pahami hidup ini adalah untuk melayani Tuhan. Untuk taat kepada panggilan yang Tuhan percayakan. Karena yang lebih jauh lagi kita berpikir Tuhan yang berkuasa atau berotoritas atas seluruh hidup kita. Bagian kita jelas taat dan setia kepada panggilan itu, sampai selesai.
Tetapi sekarang kenapa ya, pemahaman itu sedikit demi sedikit, berubah di dalam hidup kita. Pikiran kita mulai dihinggapi dengan sebuah gaji yang tinggi, oleh sebuah masa depan, oleh sebuah kenyamanan. Di benak seperti berbicara “pikirkan tentang teman hidupmu, pikirkan tabunganmu, pikirkan ini dan itu”. Yang kesemunya pada satu topik pikirkan tentang dirimu. Kenapa alumni sudah mulai menghitung-hitung waktu memimpi kelompok kecil atau melayani jangan-jangan karena pikiran seperti itu yang full di dalam hidup kita. Arti panggilan untuk melayani dan hidup bagi Kristus itu di geser oleh hidup bagi diri sendiri. Coba kita evaluasi diri kita apakah kita masih bertanya, Tuhan apa yang harus aku lakukan demi VisiMu??
Justru yang terjadi adalah seorang alumi akan membela dirinya dengan berkata aku mengajar atau bekerja dengan baik itu adalah pelayanan saya saat ini. oke itu benar. Tetapi pertanyaannya, pelayanan yang bagaimana yang telah kita berikan bagi pekerjaan kita? kalau kita datang tepat waktu, mengerjakan tugas dengan baik, mengerjakan ini dan itu yang semuanya berhubungan dengan pekerjaan kita, saya berpikir bukankah orang lain juga mungkin mengerjakan itu. Tetapi jujur dulu kita apakah memang benar pembelaan kita itu? Atau kita kerja doang.
Rasul Paulus mengingatkan jemaat Filipi bahwa akan banyak yang menjadi seteru salib Kristus (Fil 3:18). Menarik menggali seteru salib. Salib memang sebuah lambang yang hampir semua orang akan menghindarinya. Salib itu tidak populer bahkan dicemooh. Salib itu tidak nyaman justru mendatangkan masalah. Tetapi salib yang justru dihindari itu yang dipilih oleh Tuhan Yesus. Memang sedikit ‘gila’ mengapa Tuhan Yesus menjalani salib. Kok enggak menjalani yang lain saja ya.
Salib memang mendatangkan masalah. Karena itu harus menjadi gambaran dan panutan kepada setiap orang yang mau mengikut Dia. Yesus berkata setiap orang yang mau menjadi muridKu harus memikul salibnya. Dengan kata lain kalau tidak mau memikul salib tidak usah ikut Aku. Kira-kira demikian. Itu makanya banyak kok calon murid yang mundur menjadi murid Kristus karena harus memikul salib, menyangkal diri, atau harus melayani dan berkorban bagi sesama. Sebagai mana Kristus berkorban bagi dunia ini seperti itu juga setiap murid di tuntut berkorban bagi Dunia ini. Jelas dan tegas. Ikut Yesus tidak nyaman. Banyak tuntutannya. Banyak susahnya.
Kenapa ini yang saya ungkapkan. Karena pertanyaan kenapa berbeda jiwa melayani sewaktu mahasiswa dengan sewaktu alumni. Sangat berhubungan dengan apa yang sekarang kita pikirkan tentang hidup bersama dengan Kristus. Apakah hanya sebatas status? Atau memang seorang murid. Yesus mengajarkan tentang layanilah seorang akan yang lain. Tentang menghadirkan kerajanNya di dunia ini. Teman-teman Yesus tidak pernah menunjukan tentang hidup yang mementingkan dirinya sendiri. Tetapi hidup bagi orang lain, hidup bagi orang yang terkucilkan, hidup bagi domba yang tidak bergembala itu, hidup bagi ketaatan dan kesetiaan kepada Bapa.
Kalau demikian, bukankah seharusnya tidak ada perbedaan semangat melayani seorang mahasiswa dan alumni. Memang benar tantangan dunia alumni itu semakin berat. Tantangan hidup itu semakin kompleks. Tetapi saya pikir tetap tidak ada alasan bagi kita mencoba MPP (mundur pelan-pelan) dari panggilan hidup seorang murid Kristus.
Teman-teman, pelayanan alumni menantikan kita. Pelayanan mahasiswa mengharapkan dukungan kita. Di pelayanan gereja seharusnya nyata kehadiran kita. Di profesi kita seharusnya mulai kelihatan terang dan terasa garam itu. Hidup yang bermisi seharusnya menjadi hidup kita. Banyak hal yang harus kita kerjakan, marilah lihat itu dengan sebuah ketaatan dan kesetiaan mengerjakan panggilan yang Tuhan percayakan di dalam hidup kita. sehingga kerinduan kita semangat melayani sewaktu mahasiswa itu semakin hari akan semakin ‘mengigit’ di tengah dunia yang semakin busuk ini. Semangat terus.

Tulisan Tentang regenerasi

Regenerasikan Pelayananmu!
Eksposisi 2 Tim 2:2

Setiap generasi mempunyai tanggungjawabnya sendiri. Bahwa generasi sekarang akan berakhir dan digantikan dengan generasi berikutnya. Begitu seterusnya, generasi yang satu akan digantikan dengan generasi dibawahnya. Hampir semua organisasi, pelayanan atau gereja menerapkan prinsip ini. Bertujuan untuk menjaga keberlangsungan atau kontinuitas visi dari organisasi atau pelayanan tersebut.
Sehingga keberhasilan seorang pemimpin, pengajar, atau pelayan di dalam sebuah organisasi atau pelayanan tidak hanya dilihat dari bagaimana ia mengajar atau bagaimana ia memimpin atau berapa besar pelayanan yang ia kerjakan. Tetapi juga dilihat dari bagaimana ia dapat membentuk generasi dibawahnya menjadi pengantinya kelak. Meregenerasikanya. Atau dengan kata lain bagaimana ia mempersiapkan orang tertentu untuk mengerjakan apa yang selama ini ia kerjakan, atau menyampaikan apa yang selama ini ia sampaikan atau melanjutkan apa yang selama ini telah ia mulai atau mengantikan posisinya. Jadi satu hal yang penting di dalam keberlangsungan pelayanan adalah memastikan bahwa setiap generasi menangkap beban/visi dari para pendahulunya. Dan point inilah yang ingin ditularkan atau ditekankan Paulus kepada anak rohaninya Timotius.
Di latarbelakangi oleh teladan Onesiforus (1:16) dan penghianatan atau penyangkalan Filgelus dan hermogenes (1:15) Paulus membimbing/menasehati Timotius di dalam mengembalakan jemaat. Kondisi yang bertolak belakang ini menjadi sebuah pelajaran yang dapat berupa teladan tetapi juga menjadi sebuah peringatan. Teladan Onesiforus seharusnya berlanjut kepada Timotius dan para pelayanan yang akan membantu Tiomtius di dalam mengajar. Dan Kegagalan Filgelus dan Hermogenes tidak terulang dari orang-orang yang akan mengemban tanggungjawab tersebut. Tentunya ini sangat penting bagi Timotius secara pribadi sebagai seorang pengajar firman dan bagi orang yang kepadanya akan dipercayakan tanggungjawab pengajar firman.
Paulus mendorong Timotius tetap kuat (2:1). Kasih karunia di dalam Yesus Kristus yang harus menjadi sumber kekuatan Timotius di dalam mengerjakan tanggungjawabnya. Apa lagi mengingat Timotus yang masih muda yang terkadang dianggap rendah oleh orang lain (bd 1Tim 4:12). 2 Kor 1:12 Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.
Di dasari kekuatan kasih karunia, Paulus menegaskan tugas utama Timotius. Yakni bagaimana Timotius harus mempercayakan berita injil itu dengan sepenuhnya kepada orang-orang yang dapat dipercayai, dan juga cakap mengajar orang lain. Kata Percayakanlah (paratithenia) berasal dari akar kata yang sama dengan kata harta yang indah (paratheke 1:14). Apa yang harus dipercayakan itu bukanlah merupakan seuatu tugas yang sembarangan. Pesan yang harus dipercayakan itu adalah harta yang indah. Jadi, sebagaimana Paulus telah mempercayakan injil itu kepada Timotius sebaliknya demikian jugalah tanggungjawab Timotius untuk mempercayakan tugas itu selanjutnya.
Di dalam tradisi yahudi hal ini biasa dilakukan. Seorang guru akan mempersiapkan para pengikutnya untuk mengantikanya kelak. Ini juga merupakan praktika dari filosofi Yunani. Greek philosophical schools although they usually emphasized the views of the founder more then those of immediate predecessors (Bibel Background Commentary). Sehingga hampir semua guru atau pengajar mempunyai pengikut dan guru atau pengajar akan mempersiapakan para murdinya untuk mengantikanya kelak.
Pesan Paulus adalah menyakinkan Timotius bahwa berita injil yang ia sampaikan akan disampaikan dari generasi ke generasi melalui orang-orang yang tepat. Kontinuitas injil harus terjaga. Para pengajar injil pasti akan mengalami masa transisi dan itu harus diamankan dengan regenerasi yang baik. Di mana pada masa yang akan datang mungkin sekali pemberitaan injil akan menjadi sesuatu hal yang membosankan. Mungkin saja karena pengaruh tradisi yang konservatif. Hal inilah yang menjadi perhatian Paulus sehingga regenerasi itu menjadi sangat penting.
Ada dua syarat yang ditekankan Paulus. Pertama adalah orang itu adalah orang yang dapat dipercaya dan yang kedua adalah orang itu juga harus cakap mengajar (Lihat 2Tim 2:24, 1Tim 3:2, Titus 2:3). Dua syarat ini mutlak harus terpenuhi dari orang yang akan melajutkan pemberitaan injil itu. Mengingat bahwa berita yang akan dipercayakan kepada mereka adalah berita injil. Harta yang indah.
Apalagi di tengah tantangan banyaknya nabi palsu yang menyalahgunakan atau mempersempit berita injil. Jika kita lihat pada surat yang lain Paulus harus berhadapan dengan para pengajar-pengajar yang hanya mementingkan hal-hal duniawi. Hikmat yang mereka pakai juga adalah hikmat duniawi, sehingga mereka dengan rupa-rupa tipu daya mengadakan tanda dan mujizat-mujizat palsu (2 Th 2:9-13). Para pengajar itu sibuk dengan silsilah dan dongeng yang hanya untuk menyenangkan hati pendengarnya (1 Tim 1:4, 4:7, 2 Tim 4:4).
Jika kita melihat kesejajaranya dengan zaman sekarang, saya melihat kita berada pada pergumulan dan tantangan yang sama. Perhatikanlah banyaknya para pengajar yang mempersempit berita injil. Para pengajar yang hanya menjadikan pengajaran firman sebagai sebuah entertainment. Para pengajar yang hanya berorientasi menyenangkan para pendengarnya semata. Para pengajar yang sibuk dengan hal-hal yang tidak esensial. Tentunya nasihat yang sama disampaikan pada kita melalui bagian ini. Bahwa saat ini juga dibutuhkan para pengajar yang dapat dipercaya, memiliki kekuatan dari kasih karunia Tuhan yang juga memiliki kreatifitas yang cakap di dalam mengajar berita injil yang mulia itu.
Dengan demikian jika kita renungkan nasihat ini maka setiap kita bertanggungjawab untuk memerintahkan atau meregenerasikan para pengajar firman dari generasi ke generasi. Setiap generasi saya pikir memiliki tanggungjawab yang sama di dalam meregenerasikan dan diregenerasikan. Inilah printah dan tanggungjawab yang harus kita emban. Sebagai pengajar kita harus concern mempersiapakan generasi berikutnya untuk mengantikan kita. sebagai orang yang sedang di persiapakan kita juga harus melihat visi itu bahwa kita diharapkan akan melanjutkan kontinuitas injil bagi genereasi kita.
Jadi meskipun kita berada di tengah tantangan zaman dimana kebenaran itu menjadi kabur dan pengajaran yang sehat tidak di gemari. Kita bertanggungjawab untuk terus menyatakan di mana kebenaran injil menjadi sebuah kebenaran yang revoulusioner. Kebenaran yang mengubah hidup orang banyak. Berapapun harganya, apapun yang harus kita lakukan. Dalam rangaka mewujudkan pesan injil ini, semakin dibutuhkanlah seorang pengajar yang dapat dipercaya. Tetapi teguh kepada kekuatan kasih karunia Allah dan juga seorang pengajar yang cakap di dalam mengajarkan kebenaran itu.
Sebuah kesaksian ketika saya mengumuli dan memutuskan menjadi staf dalam jangka waktu yang lebih lama. Ada kesadaran akan tanggungjawab bahwa pelayanan mahasiswa membutuhkan orang-orang yang kuat di dalam pengajaran firman. Ketika saya melihat pengaruh dari staff senior di kota saya, melalui pengajaran dan pemberitaan firman yang kuat ada sebuah pengaruh terhadap kemajuan pelayanan. Sehingga daripada itu saya melihat bahwa mereka suatu saat harus digantikan juga. Bahwa generasi berikutnya juga membutuhkan para pengajar yang baik.
Sekarang, bagaimana dengan kita? Mulailah dari hal kecil. Barangkali dengan mempercayakan tanggungjawab pelayanan kampus atau sekolah kepada adik kelas kita. Atau juga dengan menyadari tanggungjawab yang lebih besar, bahwa kemajuan pelayanan perkantas saat ini akan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Sehingga kita rindu melalui kesadaran itu, lahir sebuah usaha serius untuk belajar memperlengkapi dan mengembangkan diri dalam rangka kontinuitias pelayanan ini. (diterbitkan di majalah DIA)

Prasasti Perangin-angin
Staf Mahasiswa Perkantas Medan

Kamis, 10 Juli 2008

renungan Menyambut HUT RI

Apakah Peranmu?
Oleh: Prasasti Perangin-angin (staff Mahasiswa)
Jeremiah 29:7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.
Indonesia bisa disebut sebagai Negara gagal. Di lihat dari kemelut permasalahan yang terus-menerus dihadapi bangsa ini sepertinya sulit melihat sebuah titik terang kebangkitan cita-cita Proklamasi RI yang dinyatakan di dalam pembukaan UUD 1945, yakni masyarakat yang adil dan sejahtera. Kebodohan, korupsi dan kemiskinan masih menjadi musuh utama bangsa ini. Kalau bisa di katakan ketiga hal inilah penyebab kehancuran bangsa ini. Meskipun Negara ini sudah berusia 63 Tahun, masalah ini masih menjadi agenda hitam perjalanan bangsa ini. sehingga benar seperti yang dikemukan sang Proklamator bahwa musuh kita saat ini bukanlah kolonialisme bangsa lain melainkan penjajahan dari bangsa sendiri. Karena kalau dirunut kebelakang siapa yang menjadi biang keladi dari kebodohan di bangsa ini, siapa yang menumbuh suburkan korupsi di bangsa ini, dan siapa yang membuat bangsa ini meskin? Jawabannya idak lain dan bukan adalah bangsa ini sendiri.
Indikasi kebodohan dengan mudah kita jumpai di bangsa ini. Perhatikan saja sarana pendidikan, maka akan dengan mudah kita jumpai gedung yang hampir roboh, fasilitas yang minim, kualitas guru yang rendah, perpustakaan yang lapuk dan dari semua itu kita akan melihat sebuah ketidak seriusan bangsa ini dalam memajukan pendidikan. Perhatikan juga kebijakan pemerintah, yang dikeluarkan adalah kebijakan pembodohan. Pelaksanaan UN misalnya. Pembodohan ini juga terasa sekali di tingkat perguruan tinggi. Orang miskin dilarang kuliah. Sehingga jangan heran anak bangsa ini menjadi generasi yang bodoh. Apalagi ditambah dengan dunia media yang berlomba-lomba membodohi generasi bangsa ini dengan gossip, iklan, sinetron, hantu pocong, boros, konsumerisme, dengan penuh daya tarik di pangpangkan di bangsa ini. Bukankah ini semua akibat kebodohan yang sudah berakar di bangsa ini. Dan jangan-jangan kita sendiri di dalam pelayanan mahasiswa sedang tergilas di dalamnya. Ikut bodoh.
Apalagi masalah Korupsi negeri ini menduduki peringat wahid di seluruh jagad raya ini. Instansi-instansi pemerintah memperlihatkanya kepada kita bagaimana korupsi alias uang pelicin beranak pinak disana. DPR, Jaksa Agung, Depertemen Agama dan instansi lainya tidak terkecuali larut di dalam habit yang satu ini. Kasus suap, kasus manipulasi proyek, kasus potong atas adalah makanan sehari-hari hidup di negeri ini.
Di tambah lagi kemiskinan yang terus memperburuk wajah Negara ini. Penganguran dan meningkatnya biaya hidup akibat kenaikan BBM. Di prediksi kenaikan BBM akan menambah angka kemiskinan. Survei memperdiksi 17,7 % penduduk bangsa ini memiliki pendapatan perkapita dibawah 2 dolar per hari. Sehingga jangan heran, semakin banyak gelandangan, semakin suburnya pemukiman kumuh, semakin banyak gizi buruk, makan nasi aking menjadi potret bangsa yang sudah berusia 63 tahun ini.
Teman-teman ini adalah permasalahan bangsa ini . Meskipun 17 Agustus 2008 ini kita akan merayakan HUT ke 63, permasalahan diatas masih menjadi agenda utama yang harus di perangi dari agenda hitam yang sudah berakar di bangsa ini. Kita sepertinya harus berdoa puasa, agar pemerintahan kita bisa sadar dan mengambil langkah-langakah nyata untuk memerangi masalah ini.
Kita pasti sepakat, bahwa setiap kita yang dibina di dalam pelayanan mahasiswa bertanggungjawab untuk memerangi ketiga hal tersebut. Di lihat dari sejarah lahirnya pelayanan mahasiswa, kita hadir untuk menjadi berkat dan berperan mewujudkan syalom Allah di bangsa Indonesia. Tentunya pernyataan menjadi berkat dan peran bagi bangsa ini bukanlah sebuah pembicaraan yang baru bagi kita. Tetapi memang, pertanyaannya adalah peran apa yang sudah kita berikan untuk memerangi masalah-masalah yang di hadapi bangsa ini. Syalom Allah apa yang sudah kita tuliskan terhadap pergumulan bangsa ini?
Belajar dari Nehemia ketika mendengar berita bahwa orang Israel yang hidup di Yerusalem sedang di dalam keadaan tercela dan mengalami kesusahan besar (Neh 1:3) ia pun berdoa berpuasa untuk hal itu. Tidak hanya itu, Nehemia pun taat kepada apa yang Tuhan perlihatkan kepada Dia. Yakni membangun kembali tembok yang sudah runtuh itu. Secara konkrit Nehemia mengambil peran untuk membangun bangsanya. Dan dengan kekuatan Tuhan Nehemia menujukan kuasa Tuhan bekerja di dalam Dia dengan mengerjakan tanggungjawanya membangun kembali tembok yang sudah runtuh itu.
Sekarang, apa yang menjadi peran kita untuk membangun kembali bangsa ini. Dirgahayu RI yang ke 63 ini, bagaimana Pelayanan mahasiswa menujukan peranya. Saatnya kita merefleksikan kembali bagaimana perwujudan tanggungjawab yang selama ini kita kumandangkan itu. Menjadi garam dan terang bangsa. Menjadi leader bagi bangsa ini. Bagaimana kita akan mewujudnyatakan peran tersebut. Mari kita gumulkan bersama.
Mari kita banyak berdoa agar Tuhan memulihkan bangsa ini. Di sisi lain saatnya juga setiap kita bisa menjadi panutan ditengah langkanya teladan di bangsa ini. Sebagai mahasiswa saatnya kita dengan tekun belajar agar kebodohon itu bisa kita berantas. Ketekunan belajar yang akan membentuk pola pikir kita menjadi mahasiswa yang bijak dan dapat berkarya bagi bangsa ini, tidak terinfeksi virus gossip, hemat energi, hidup sederhana, kritis, disiplin, sebagai peran nyata membangun bangsa ini. Mulailah dari diri sendiri dan lihatlah masalah bangsa yang sedang di dalam keadaan tercela ini. Bangsa ini sedang menunggu generasi muda dari pelayanan mahasiswa ini. Sehingga pertanyaan peran apakah yang sudah kita berikan bagi bangsa ini akan kita jawab dengan hidup kita yang kita persembahkan bagi bangsa Indonesia. Dirgahayu RI ke 63, SELAMAT ULANG TAHUN INDONESIAKU!

Kamis, 26 Juni 2008

Semangat Kebangsaan Nehemia

Artikel oleh Prasasti Perangin-angin
Semangat Kebangsaan Nehemia
Nehemia adalah seorang juru minum Raja di Puri Susan. Sebuah posisi penting di dalam sebuah kerajaan. Meskipun ia hidup di negeri buangan dan berstatus sebagai orang asing, Nehemia bisa mendapatkan posisi itu. Segala makanan dan minuman raja akan melewati dia sebelum dihidangkan kepada Raja. Jadi bisa kita katakan bahwa dihadapan Raja Artahsasta Nehemia bukanlah orang sembarangan melainkan orang kepercayaan raja.
Melalui posisi itu kita bisa melihat bahwa Nehemia berada di dalam sebuah karir yang cukup menjanjikan dan mungkin sebuah posisi yang sangat aman. Hidup sebagai orang kepercayaan raja. Karir yang mungkin terlalu tinggi untuk orang buangan seperti dia. Karir yang mungkin menjadi impian setiap orang apalagi orang Israel yang pada waktu itu berstatus sebagai negeri yang kalah dari Negeri Persia. Sebuah karir yang mungkin setiap orang pada zaman ini juga menginginkannya, yakni masa depan yang jelas, posisi yang aman, dan menjanjikan.
Tetapi meskipun demikian kita bisa melihat bahwa Nehemia tidak berpikir untuk bertahan di dalam posisi itu. Perhatikanlah ketika Nehemia bertemu dengan Hanani. Ia aktif dan berinisiatif untuk bertanya bagaimana kondisi saudara-saudaranya yang masih tinggal di Yerusalem (2) aku menanyakan kepada mereka….. Pertanyaan yang menggambarkan sebuah kerinduan hati untuk mengetahui pergumulan/beban berat yang sedang dirasakan oleh kaum sebangsanya menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang tidak melupakan saudara-saudaranya yang tertindas ditengah kesuksesannya. Melihat respon ini, jika kita membandingkan dengan orang-orang yang sukses pada zaman ini, hal itu adalah sebuah hal yang mungkin ‘aneh’. Setiap orang pada pada zaman ini umumnya dituntut untuk mementingkan dirinya sendiri.
Israel yang Nehemia rindukan hidup di dalam kesukaran besar dan di dalam keadaan tercela (3). Tembok yang adalah lambang kebesaran dan kekuatan bangsa Israel telah runtuh. Pintu-pintu gerbangnya telah terbakar (3). Israel tidak memiliki jati diri sebagai sebuah bangsa. Bahkan kekalahan itu juga melambangkan kekalahan Allah Israel oleh dewa-dewa kafir. Dengan demikian runtuhnya tembok itu adalah sebuah pukulan yang amat berat bagi Nehemia.
Lebih lanjut, betapa Nehemia mengasihi bangsanya tergambar dari respon responnya ketika mendengar berita itu. Dia menangis dan berkabung selama beberapa hari. Berdoa dan berpuasa ke hadirat Allah untuk memohon dan menyerahkan apa yang sedang dialami bangsanya. Jika kita berhenti sejenak untuk merenungkan kondisi bangsa Indonesia, bagaimana respon kita? Tentunya kita sepakat bahwa kondisi republik tercinta ini sedang ada dalam tercela dan hidup di dalam kesusahan besar. Naiknya harga BBM, Korupsi yang merajalela, kemiskinan, lumpur Lapindo, gempa, banjir…dst. Bagaimana bentuk respon kita ketika kita berkata bahwa kita sedang mengasihi Negara ini secara khusus di dalam konteks pelayanan mahasiswa. Pada umumnya orang-orang di dalam pelayanan mahasiswa berkata bahwa kita ini adalah calon pemimpin bangsa (meskipun hanya secara teori), kita ini adalah garam dan terang, bangsa ini sedang menantikan perubahan dari generasi kita…dst. Tetapi kembali, bagaimana respon kita mendengar kondisi bangsa kita? Biasa aja, cuek atau ??
Di samping Nehemia berkabung, ia meminta pimpinan Tuhan. Nehemia bertanya apa yang harus ia perbuat kepada bangsanya. Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit (2:4). Tunduk dan diam dihadapan Allah untuk mendengar pimpinan-Nya di dalam rangka membangun kembali bangsa Israel.
Apa yang harus aku perbuat Tuhan? Kembali sejenak mencoba membandingkan Nehemia dengan kita. Adakah pertanyaan itu menjadi pertanyaan kita untuk Indonesia? Apa yang harus aku perbuat Tuhan untuk membangun kembali Indonesia yang sedang tercela ini? Ataukah dengan cuek kita berkata “..peduli amat dengan bangsa ini, yang penting masa depan saya terjamin. Sehingga kalau kita cari kerjapun yang kita kejar ialah kalau bisa lulus PNS wah syukur alhamdulilah. Karena PNS, gaji lancar, kerja tidak terlalu berat, ada asuransi, ada pensiunan dan gak mungkin di pecat. Atau cari kerja yang banyak uangnya, menabung, cari istri, menikah, punya anak, punya ini dan punya itu. Nyaman deh hidup ini… dan itu sudah lebih dari cukup. Masalah bangsa ini adalah masalah orang lain, yang jelas aku tidak korupsi kecuali jika terpaksa…” Saya berpikir jangan-jangan terbersit di pikiran kita pikiran seperti itu.
Mari kembali kepada Nehemia. Sebuah keputusan yang ‘gila’ diambil oleh Nehemia yakni meninggalkan istana raja dan pergi ke Yerusalem dan membangun kembali tembok yang telah runtuh itu. Akhirnya doa kepada Allah semesta alam itu dijawab. Ya, membangun kembali tembok Yerusalem (12). Waw..sebuah jawaban yang ‘aneh’. Membangun tembok Yerusalem kalau bisa saya katakan seperti pekerjaan menjaring angin. Mustahil. Tantangan dari musuh Israel sedang menanti mereka, apalagi bagi Nehemia kita mungkin bertanya mengapa Nehemia mau meninggalkan posisi yang cukup nyaman itu. Bahkan untuk pekerjaan membangun itu, Nehemia harus bertaruh dengan nyawanya sendiri. Tetapi sesuatu yang mustahil dan aneh itulah yang menuntun Nehemia semakin mempercayakannya kepada Allah bahwa Ia akan sanggup mengerjakannya. Bahwa di dalam rangka membangun tembok itu Allah akan bekerja melalui mereka. Nehemiah 6:16 bahwa pekerjaan itu dilaksanakan dengan bantuan Allah kami.
Kita mungkin bertanya kenapa Nehemia mau mengerjakan visi ini. Jika kita runut kebelakang maka kita bisa melihat betapa besar kasih Nehemia kepada bangsa dan Allahnya. Hati kecilnya tidak tahan melihat bangsanya tercela dan berada di dalam sebuah kesusahan besar. Ia tidak mau melihat bangsanya dipermalukan dan Allahnya dianggap remeh oleh dewa kafir bangsa yang lain. Kasih yang sedemikianlah yang menuntun Nehemia untuk meninggalkan kenyamanan kepada sebuah kesukaran. Keluar dari zona aman.
Di samping itu, hal yang menarik untuk kita telusuri ialah “..rencana yang diberikan Allahku dalam hatiku”. Adalah sebuah visi yang diperlihatkan oleh Allah kepada Dia. Visi itulah yang menjadi motor Nehemia pergi kepada bangsanya. Membangun tembok yang telah runtuh itu. Visilah yang menjadi jiwa, semangat yang memberi gairah menghadapi musuh yang mencoba menghalangi dia. Dua hal inilah yang menjadi alasan Nehemia membangun bangsanya. Kasih dan visi Allah.
Kembali kepada kita yang sudah menyaksikan keterpurukan Bangsa Indonesia saat ini. Adakah kita peduli? Saya tidak tahu apa yang kita rasakan ketika hari ke hari mendengarkan berita bahwa bangsa ini berada di dalam kesusahan besar. Jika Nehemia menangis dan menaikkan doa kepada Allah. Hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah berpartisipasi membangun bangsa dengan kekuatan doa. Jika hal ini belum pernah terpikirkan untuk dilakukan, mungkin saatnya kita bertobat. Ya, bertobat. Cintailah bangsa ini. jangan kita hanya sibuk dengan urusan-urasan diri sendiri. Sehingga kasih itu akan menggerakkan kita untuk berdoa bahkan untuk membangun kembali bangsa Indonesia.
Di samping itu adakah kita terpanggil akan visi panggilan Allah untuk membangun Indonesia. Melalui pemikiran, karya, dan hidup di dalam setiap bidang kehidupan di bangsa ini. Bidang ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan, media…dsb. Adakah kita bertanya apa yang harus saya perbuat untuk membangun kembali Indonesia. Meninggalkan zona nyaman kita kepada sebuah zona keras. Dari mementingkan diri sendiri kepada kepentingan bangsa. Dari sikap yang cuek menuju care. Belajarlah dari semangat Nehemia membangun bangsanya. Sudah seharusnya pelayanan mahasiswa meneladani semangat kebangsaan Nehemia.
Hai mahasiswa, apakah responmu? Tidakkah kamu tergerak melihat kasih dan visi Nehemia? Mari membangun kembali semangat kebangsaan! Bangun kembali Indonesia tercinta ini! Immanuel. PRODEO ET PATRIA ( Htpp://www.prasatipoenya.blogspot.com/, E-Mail sasti_nangins@yahoo.com)

Minggu, 18 Mei 2008

tulisan Regenerasi Pelayanan mahasiswa

Teladan seorang Paulus
(eksposisi Kis 20:17-24)
Kis 1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Ini merupakan sebuah amanat Tuhan Yesus kepada para murid. Visi Allah bahwa injil kerajaan Allah sampai ke ujung dunia yang akan digenapi melalui para Rasul. Dan Lukas sebagai penulis Kisah Para Rasul akan menuliskan itu untuk teofilus di Roma.
Di dalam perjalanan misi yang ke tiga Paulus berkonsentrasi untuk membangun pelayanan di Efesus. Selama hampir 3 tahun ia tinggal bersama jemaat Efesus. Ini dilakukannya sesuai dengan janjinya dengan jemaat itu sewaktu Paulus melakukan perjalanan misi yang kedua. Ketika itu ia berkata jika Tuhan berkehendak maka ia akan kembali kepada jemaat itu (Kis 24:20-21). Pasal 19 Lukas langsung menyambung cerita itu ketika ia tiba di Efesus (19:1). Jemaat yang semula sudah dimulai oleh Apolos dilanjutkan oleh Paulus. Hari-hari bersama dengan jemaat Efesus dijalani Paulus dengan mengajar, menyembuhkan dan mengusir roh jahat.
Prikop ini, menceritakan lanjutan perjalanan misi Pualus ke Roma. Sebelum ia meninggalkan wilayah Asia, Paulus menempatkan diri untuk bertemu dengan para penatua jemaat Efesus. Di saat pertemuan inilah kita akan melihat bagaimana Paulus kembali mengingatkan dan mensaksikan apa yang telah ia lakukan untuk jemaat di Efesus. Dari penuturan Lukas kita melihat sharing pelayanan ini sangat personal dan menyentuh hati (37,38). Dan ini tentunya sangat penting mengingat Paulus akan meregenerasikan tanggungjawab pelayanan kepada para penatua itu dan ini merupakan pertemuan mereka yang terakhir.
Paulus mensaksikan hidupnya. Bagaimana ia melayani mulai dari hari pertama ia bersama dengan mereka. Bagaimana aku hidup, tutur Paulus berbicara kepada mereka(18). Ini merupakan sebuah kesaksian hidup yang nyata bisa dilihat dan diteladani oleh para penatua selama 3 tahun waktu mereka bersama. Kesaksian seorang ‘senior’ kepada juniornya. Kesaksian seperti ini menarik untuk dicatat karena berbicara tentang hidup. Apalagi melihat zaman ini, kesaksian tentang hidup adalah kesaksian yang langka untuk ditunjukan para ‘senior’ pelayanan mahasiswa kepada generasi berikutnya. Kecenderungan yang kita saksikan adalah retorika bagaimana mengerjakan pelayanan. Bukan teladan hidup di dalam mengerjakan pelayanan.
Paulus melanjutkan sharingnya, dengan kerendahan hati aku terus melayani Tuhan. Dengan cucuran air mata aku mengajar. Pencobaan demi pencobaan harus aku hadapi dari kalangan orang yahudi. Bahkan mereka ingin membunuh aku. Kondisi ini tentunya mengingatkan kita kepada apa yang pernah Paulus alami sewaktu di Efesus yaitu ia harus menghadapi para perusuh oleh Demetrius (19:23). Para penatua itu pasti bisa melihat bagaimana cerita ini, bahwa di dalam mengerjakan panggilan pelayanan Paulus harus menghadapi sebuah situsi jauh dari nyaman. Kondisi ini sungguh jauh bertolak belakang yang ditunjukan oleh pelayanan Tuhan saat ini, yakni tetap pada zona nyaman. Pada hal seorang pelayanan Kristen adalah keluar dari zona nyaman.
Tetapi berbicara tentang penderitaan, apa yang dialami Paulus bukanlah sebuah hal yang baru di dalam perjalanan misinya. Di dalam sharing ini, Paulus juga membukakan pergumulan pelayanan yang pernah ia alami sebelumnya. Sewaktu aku ke Yerusalem aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diriku. Hanya satu, bahwa penjara dan sengsara sedang menunggu aku disana (22-23). Tetapi meskipun demikian aku tidak menghiraukan semuanya itu, bahkan untuk pelayanan ini aku tidak pernah melalaikan tugasku sedikitpun, tuturnya (20). Bahkan menurut saya yang lebih “tidak masuk akal’ Paulus tidak peduli lagi dengan hidupnya demi visi itu tergenapi (24).
Apa yang terjadi dibalik ini semua sehingga Paulus bisa berkata demikian. Pertama adalah Paulus merupakan seorang tawanan roh (22). Tawanan berarti hidup di dalam sebuah kungkungan. Hidup di dalam sebuah perbudakan. Sehingga hidup bagi paulus adalah taat dan tunduk kepada pimpinan Roh yang menawan dia. Ketaatan dan pimpinan Roh adalah bagian hidup rasul Paulus. Di dalam pimpinan Roh, bagian Paulus adalah menaatinya. Mengingat masa regenerasi pelayanan mahasiswa saat ini, tentunya hidup sebagai tawanan Roh seharusnya menjadi bagian di dalam hidup kita. Kita menjadi koordinasi atau tidak itu berada di dalam sebuah “perbudakan” Roh Allah. Melihat beban pelayanan mahasiswa, bagaimana Roh Allah menuntun kita? dan lebih penting lagi bagaimana kita tunduk dan taat kepada pimpinan itu.
Alasan yang kedua ialah Visi atau pengelihatan. Semuanya kita pasti tidak asing dengan perkataan Paulus kepada Raja Agripa: Kis 26:19 Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat. Visi untuk menjadi saksi sampai keujung dunia adalah hidup Rasul Paulus. Sehingga apapun yang terjadi bagi dia adalah mengerjakan Visi itu. Mengenapi visi itu. Visi yang bukan sebatas di mengerti tetapi visi yang seperti seumpama sebuah cairan yang sudah tercampur dengan seluruh darahnya. Di mana visi itulah yang menjadi penggerak, jiwa, gairah dan semangat Paulus di dalam perjalanan misinya.
Kembali mengingat Regenerasi pelayanan mahasiswa saat ini. Dari tahun ke tahun kita sudah melewati puluhan generasi. Saat ini tentunya generasi yang baru akan muncul untuk terus melanjutkan kontinutitas pelayanan. Tetapi di dalam rangka melanjutkan estafet pelayanan, hal apa yang mendasari kita untuk terus mengerjakanya. ‘cairan’ apa yang ada di dalam ‘darah’ kita yang akan menjadi hidup kita. Menuntun kita untuk mengambil tanggungjawab pelayanan, meskipun di tengah “sengsara” dan “penjara” yang sedang menunggu kita. Atau alasan apa yang ada sehingga kita bersedia untuk hidup mengerjakan pelayanan ini?
Pertanyaan ini mungkin sudah pertanyaan yang kesekian kita dengarkan dan kita jawab di dalam sharing koordinasi. Jawaban kita adalah beban, ucapan syukur atas kasih setia Tuhan, visi pelayanan mahasiswa, ketaatan dan banyak jawaban yang lain dimana kesemuanya ‘sangat rohani’. Hampir tidak di antara kita akan berkata saya menjadi pengurus karena ingin coba-coba, mencari teman, mencari nama baik, dan alasan lain yang ‘tidak rohani’.
Tetapi permasalahanya adalah apakah jawaban akan alasan kita mengerjakan pelayanan itu hidup di dalam hidup kita adalah permasalahnya. Mengerti belum tentu menghidupi. Visi pelayanan mahasiswa mungkin semua kita mengerti bahwa pelayanan ini hadir untuk membentuk pemimpin yang akan mengubahkan kampus, bangsa, gereja bahkan dunia ini. Tetapi semua kita yang mengerti itu, apakah menghidupinya? Apakah ‘darah’ kita ini sudah dimasuki oleh ‘cairan’ visi pelayanan mahasiswa, sehingga kalau darah ini diteliti di dalamnya akan kelihatan visi pelayanan mahasiswa.
Kenapa koordinasi mudah sekali jenuh, bosan dan seperti tidak bergairah di dalam mengerjakan pelayanan. Mungkin ini adalah sebuah indikator bahwa mungkin kita hanya mengerti tetapi tidak menghidupi beban visi pelayanan mahasiswa. Ketika datang ‘sengsara’ dan ‘penjara’ itu kita tidak berdaya dan bahkan lari dari itu. Tetapi belajar dari teladan Paulus sengsara dan penjara itu, tidak menjadikan dia lari, malahan ia bersyukur akan peneritaan itu (Fil3:10).
Semoga teladan Paulus bisa mendorong kita untuk tidak sebatas mengerti tetapi menghidupi apa yang menjadi visi pelayanan mahasiswa. Sehingga Visi itu akan menjadi kekuatan dan ‘gairah’ kita untuk mengerjakan pelayanan mahasiswa. “Penjara” dan “sengsara” yang sedang menunggu itu akan kita hadapi bahkan kita seharusnya termotivasi untuk juga berkata: tidak akan pernah melalikan tanggungjawab pelayanan yang Dia percayakan pelayanan ini. Pada akhirnya semoga kita akan berkata seperti Paulus: Acts 20:24 Tetapi saya tidak peduli dengan hidup saya ini, asal saya dapat menyelesaikan tugas yang dipercayakan Tuhan Yesus kepada saya dan asal saya setia sampai pada akhir hidup saya untuk memberitakan Kabar Baik itu tentang rahmat Allah. amin (Prasasti Perangin-angin, Staf mahasiswa)

Jumat, 16 Mei 2008

Visi pelayanan mahasiswa

Visi Pelayanan Mahasiswa: Mengerti vs menghidupi
(eksposisi Kis 20:17-24)
Acts 1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
Di dalam perjalanan misi yang ke tiga Paulus berkonsentrasi untuk membangun pelayanan di Efesus. Selama hampir 3 tahun ia bersama jemaat disana. Ini dilakukannya sesuai dengan janjinya dengan jemaat itu di dalam perjalanan misi yang kedua. Ketika itu ia berkata jika Tuhan berkehendak maka ia akan kembali kepada jemaat itu (Kis 24:20-21). Pasal 19 Lukas sebagai penulis kitab Kisah Para Rasul langsung menyambung cerita itu ketika ia tiba di Efesus. Jemaat yang semula sudah dimulai oleh Apolos dilanjutkan oleh Paulus. Hari-hari bersama dengan jemaat Efesus dijalani Paulus di sana bersama jemaat efesus.
Prikop ini, menceritakan lanjutan perjalanan misi Pualus. Tetapi sebelum ia meninggalakan wilayan Aisa Paulus menempatkan diri untuk bertemu dengan para penatua jemaat di efesus. Kondisi yang tidak mengizinkan menyebabkan Paulus harus menitip pesan agar ia bisa bertemu dengan para penatua itu (17). Di saat pertemuan inilah kita akan melihat bagaimana Paulus kembali mengingatkan dan mensaksikan apa yang telah ia lakukan untuk jemaat di Efesus. Sharing pelayanan ini sangat personal. Dan ini tentunya sangat penting mengingat Paulus akan meregenerasikan tanggungjawab pelayanan kepada para penatua itu.
Paulus mensaksikan hidupnya. Bagaimana ia melayani mulai dari hari pertama ia bersama dengan mereka. Bagaimana aku hidup, tutur Paulus (18). Ini merupakan sebuah kesaksian hidup yang nyata bisa dilihat dan diteladani oleh para penatua itu. Kesaksian seorang ‘senior’ kepada juniornya. Uniknya kesaksian ini adalah kesaksian tentang hidup, dimana pada zaman ini kesaksian itu yang sulit untuk ditunjukan para ‘senior’ pelayanan mahasiswa kepada generasi berikutnya. Kecenderungan yang kita saksikan adalah retorika bagaimana mengerjakan pelayanan. Bukan teladan hidup di dalam mengerjakan pelayanan.
Dengan kerendahan hati aku terus melayani Tuhan, ujar Paulus. Dengan cucuran air mata ia mengajar kepada jemaat. Pencobaan demi pencobaan harus ia hadapi dari kalangan orang yahudi. Bahkan mereka ingin membunuh dia. Kondisi ini mengingatkan kita kepada cerita sebelumnya yaitu ia harus menghadapi para perusuh oleh Demetrius (19:23). Ia harus hidup di dalam kondisi yang tidak nyaman di dalam mengerjakan panggilan itu.
Penderitaan yang harus dialami Paulus bukanlah sebuah hal yang baru yang harus dia jalani di dalam perjalanan misi ini. Di dalam sharing ini, Paulus juga membukakan pergumulan pelayanan yang pernah ia alami. Sewaktu ia ke Yerusalem ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Dia. Hanya satu bahwa penjara dan sengsara sedang menunggu dia disana (22-23). Tetapi meskipun demikian ia tidak menghiraukan semuanya itu, dengan tidak pernah melalaikannya sedikitpun (20). Bahkan lebih “tidak masuk akal’ ia tidak peduli lagi dengan hidupnya demi visi itu (24).

Apa yang terjadi di balik ini semua sehingga paulus bisa berkata demikian. Pertama adalah ia merupakan tawanan roh (22). Tawanan berarti hidup di dalam sebuah kungkungan. Hidup di dalam sebuah perbudakan roh. Sehingga hidup bagi paulus adalah taat dan tunduk kepada pimpinan Roh. Ketaatan dan pimpinan Roh adalah bagian hidup rasul Paulus. Alasan yang kedua ialah Visi atau pengelihatan itu. Semuanya kita pasti tidak asing dengan perkatan: Acts 26:19 Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat. Visi menjadi saksi sampai keujung dunia adalah hidup rasul paulus. Sehingga apapun yang terjadi bagi dia adalah mengerjakan Visi itu.
Bulan ini setiap kampus sedang mengadakan regenerasi kepengurusan. Dari tahun ke tahun pelayanan mahasiswa sudah melewati puluhan generasi. Saat ini tentunya generasi yang baru akan muncul untuk terus melanjutkan pelayanan ini. tetapi di dalam rangak melanjutkan estafet pelayanan ini, hal apa yang mendasari berada di dalamnya yang menuntun kita untuk mengambil tanggungjawab pelayanan ini? Di tengah “sengsara” dan “penjara” yang sedang menunggu kita menjadi seorang pelayanan Tuhan, kenapa kita bersedia untuk hidup mengerjakan pelayanan ini?
Pertanyaan ini mungkin sudah pertanyaan yang kesekian kita dengarkan dan kita jawab di dalam sharing. Jawaban kita adalah beban, ucapan syukur atas kasih setia Tuhan, Visi pelayanan mahasiswa, ketaatan dan banyak jawaban yang lain dimana kesemuanya ‘sangat rohani’. Hampir tidak di antara kita akan berkata saya menjadi pengurus karena ingin coba-coba, mencari teman, mencari nama baik, dan alasan lain yang ‘tidak rohani’.
Tetapi permasalahanya adalah apakah jawaban akan alasan kita mengerjakan pelayanan itu hidup di dalam hidup kita adalah permasalahnya. Mengerti belum tentu menghidupi. Visi pelayanan mahasiswa mungkin semua kita mengerti akan hal itu. Tetapi semua kita mengerti itu menghidupinya adalah permasalahan di dalamnya.
Kenapa mudah sekali kita jenuh, bosan dan seperti tidak bergairah di dalam mengerjakan pelayanan adalah indicator bahwa mungkin kita hanya mengerti tetapi tidak menghidupi. Ketika datang ‘sengsara’ dan ‘penjara’ itu kita tidak berdaya dan bahkan melupakan apa yang kita pahami. Kita mungkin sedang tidak bisa lagi melihat apa yang menjadi visi dan kerinduan pelayanan mahasiswa yang sedang kita kerjakan.
Bagaimana teladan rasul paulus ini bisa mendorong kita untuk tidak sebatas mengerti tetapi menghidupi apa yang menjadi visi pelayanan mahasiswa. sehingga itu akan menjadi kekuatan dan ‘gairah’ kita untuk mengerjakan pelayanan mahasiswa. “Penjara” dan “sengsara” yang sedang menunggu itu akan kita hadapi bahkan kita tidak akan pernah melalikan tanggungjawab pelayanan yang Dia percayakan kepada kita. bahkan kita tidak akan perduli akan hidup kita demi tercapainya visi yang Tuhan tarukan itu.
Sehingga sebagai pengurus baru kita akan berkata seperti Paulus: Acts 20:24 Tetapi saya tidak peduli dengan hidup saya ini, asal saya dapat menyelesaikan tugas yang dipercayakan Tuhan Yesus kepada saya dan asal saya setia sampai pada akhir hidup saya untuk memberitakan Kabar Baik itu tentang rahmat Allah.

Selasa, 29 April 2008

tentang pelipatgandaan kita

Liputan/refleksi Pertemuan Kombin/dept KK se-Medan (seri 1 artikel KK)
Pelipatgandaan KK dalam sebuah Ketimpangan.
Pelayanan mahasiswa hadir melalui sebuah kelompok kecil. Melalui metode pembinaan secara kelompok kecil pelayanan mahasiswa hadir dan berkembang di dalam dunia kampus. Dengan ciri pembinaan yang intensif, progresif dan interaktif kelompok kecil berdampak besar di dalam proses pembentukan murid dan keberlangsungan pelayanan mahasiswa. Murid yang bukan hanya sebatas ‘status’ tetapi murid yang mengalami perubahan nilai dan karater hidup menuju kepada kesempurnaan di dalam Yesus Kristus. Murid yang bertumbuh, murid yang dapat menjadi garam dan terang bagi dunia terbentuk melalui kelompok kecil.
Proses pemuridan di dalam KK terjadi dengan proses pelipatgandaan. Seorang anggota kelompok kecil diharapkan akan menjadi pemimpin KK nantinya. Pelipatgandaan yang terangkum di dalam karakter, kepemimpinan dan kompetensi. Sehingga di dalam proses itu seorang murid akan dapat memuridkan. Atau dengan kata lain proses itu bukan hanya ‘menggemukkan’ diri sendiri tetapi murid yang juga akan dapat membawa domba-domba menjadi murid Kristus.
Amanat Agung menjadi landasan bahwa setiap murid atau orang percaya hidup di dalam panggilan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Status murid menjadikan kita ikut di dalam tanggungjawab menjadikan semua bangsa murid Kristus. Ikut di dalam penggenapan amanat itu yakni: Karena itu pergilah dan jadikanlah semua bangsa muridKu..
Beban dan visi Amanat Agung tergambar melalui teladan Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus mengembalakan ke 12 Rasul, Ia dengan jelas memahami visi dari pengembalaan itu yakni penjala ikan menjadi penjala manusia. Dengan hanya memfokuskan kepada ke 12 murid, Tuhan Yesus dapat mengubah seorang nelayan, seorang pemumut cukai, seorang “Pemberontak (Zelot)’ atau yang tidak terpelajar akan menjadi saksi dan mengajarkan kepada dunia tentang kebenaran di dalam diri Yesus Kristus. Itu adalah sebuah gambaran keberhasilan pembinaan/pemuridan yang di lakukan Tuhan Yesus di dalam kehidupan para murid.
Melihat teladan itu kelompok kecil juga memiliki dan mendemonstrasikan kerinduan yang sama. AKK yang saat ini dibina suatu saat akan membina. AKK yang saat ini dituntun untuk bertumbuh, suatu saat akan menuntun umat Tuhan untuk bertumbuh. Ini merupakan kerinduan kelompok kecil yaitu sebuah kelompok yang berlipatganda. Atau murid yang memuridkan. Kelompok kecil melihat dengan pembinaan yang khusus dengan 3-8 orang akan menghasilkan sebuah kelompok-kelompok yang baru. Bahkan kelompok kecil dapat memberikan kontribusi terhadap kegenapan penginjilan sedunia.
Tetapi, apa yang dirindukan kelompok kecil dan pelayanan mahasiswa ini, mengalami sebuah “ketimpangan”. Jika kita melihat kondisi pelayanan saat ini, maka proses murid yang memuridkan itu berjalan dalam ‘kecepatan terendah’. Dari lebih kurang 983 orang AKK binaan tahun ke-3 yang di harapkan sudah dapat memuridkan ternyata hanya 170 orang yang sudah memuridkan. Atau hanya 15 %. Bahkan tidak jarang kita menjumpai seorang AKK tidak memimpin sampai alumni. Jika dilihat juga dari yang sudah memuridkan yaitu 864 orang sebagian besar merupakan alumni. Ada apa dengan kondisi ini? di mana murid yang diharapkan memuridkan itu?
Di dalam pertemuan Kombin Se-medan masalah ini dibicarakan dan dibukakan oleh PMK Medan. Yakni kondisi pelipatgandaan pelayanan mahasiswa. PMK Medan menjadi fasilitator untuk mengumpulkan semua Kombin/Dept KK se kota Medan. Untuk berdiskusi dan mencari langkah konkrit menanggapi masalah ini. Di samping itu setidaknya pertemuan ini akan menyadarkan Kombin/Dept KK akan kondisi pelipatgandaan KK saat ini. Karena sadar atau tidak pelayanan mahasiswa sedang berada di dalam sebuah ketimpangan ini.
Bagaimana kita menanggapi masalah ini? atau di mana hulu masalahnya. Sebagai Kombin/dept KK apakah memang kita juga sedang ikut bermasalah di dalamnya. Sebagai Kombin/Dept KK yang sering dijuluki mengurusi ‘ujung tombak pelayanan mahasiswa’ apakah masih tergambar di dalam hati kita. Di tengah pelayanan mahasiswa menempatkan bahwa perjalanan KK adalah kunci keberhasilan dan keberlangsungan pelayanan mahasiswa, bukan kah seharusnya pengurus juga akan menempatkan KK sebagai bagain utama di dalam mengurusi pelayanan. Tetapi pertanyaannya adalah apakah sense itu masih terasa di tumbuh pengurus. Jika kita pengurus sudah mulai menomorduakan kelompok kecil, ini merupkan sebuah indikasi pengurus juga sedang ikut ambil bagian di dalam terciptanya ketimpangan pelipatgandaan KK.
Para PKK apakah saat ini masih melihat Kelompok kecil sebagai prioritas utama pelayanan? Ataukah para PKK juga sudah melihat KK itu sama dengan pelayanan menjadi petugas acara kebaktian, misalnya. Jika memimpin KK itu sama saja dengan bentuk pelayanan yang lain, maka jangan heran ketika mendengar di dalam satu semester KK hanya berjalan 1 atau 2 kali. Ini relaita ketimpangan di dalam pelayanan kita saat ini. Di samping itu juga PKK seriang sekali hanya mentransfer sebuah tradisi KK bukan Visi dari kerinduan KK. Sehingga PKK baru sering tidak tahu atau tidak memahami tanggungjawabnya sebagai pembuat murid.
Di samping kedua hal tersebut tentunya komitmen dari AKK juga berperan aktif menciptakan ketimpangan itu. Di dalam perjalanan Tuhan Yesus, injil menceritakan bahwa banyak orang ingin menjadi murid-Nya. Tetapi di dalam perjalanan itu, Tuhan Yesus menanamkan satu hal kepada setiap orang yang mau mengikut Dia. Komitmen. Luk 14:27 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Bagaimana kerinduan AKK kita saat ini mengikuti kelompok kecil? Apakah saat kelompok itu menjadi saat yang terindah karena saat itulah AKK akan bertemu dengan sebuah komunitas/keluarga untuk bertumbuh bersama. Untuk bersekutu bersama. Untuk belajar bersama. Untuk bersaksi bersama.
Apa yang harus kita lakukan? Semoga melalui pertemuan ini, Kombin/dept KK se kota Medan menyadari hal ini. Jika pengurus sadar, maka pengurus akan memimpin para PKK untuk juga menyadari ketimpangan itu. Jika para PKK sadar maka ia akan menamkan hal itu di dalam kelompok kecilnya kepada AKK. Itulah kerinduan kita bersama: menyadari ketimpangan pelipatgandaan kelompok kecil kita. (sasti) to be continue..

artikel VM pelayanan mahasiswa

Pengantar.
Visi dan misi memiliki kaitan yang sangat erat. Keduanya tak terpisahkan. Visi pada hakikatnya adalah jiwa dari gerakan sebuah misi. Harapannya, cita-citanya, obsesinya. Visilah yang melahirkan, menghidupkan, mengarahkan dan menopang misi. Tanpa visi tiada misi yang ada atau tersisa cuma tradisi, aktivitas. Sebaliknya tanpa misi, tiada visi yang ada atau tersisa cuma mimpi! Ancaman terbesar bagi gerakan pelayanan mahasiswa dewasa ini seperti yang dikemukakan oleh Samuel Escobar, adalah hilangnya penjiwaan akan visi dari para perintisnya. Jika ini yang terjadi, gerakan itu tidak akan bertahan, cepat atau lambat pasti akan berakhir. Seperti lilin yang kehilangan nyala api, sumbunya memang masih membara, namun cuma untuk sementara, selanjutnya….padam untuk selama-lamanya!

1. Visi
Visi terjemahan dari vision. Visi adalah penglihatan jauh ke depan yang berasal dari dan dibukakan oleh Allah kepada orang-orang yang dipilihnya ( Kis 26:19, Neh 2:12, EF 1:18 ). Meliputi pengertian yang jernih, jelas dan terang akan sesuatu. Visi merupakan perpaduan dari tiga komponen yakni :
 Allah (kehendak dan rencana Allah).
 Manusia (talenta dan kapasitas yang Allah berikan).
 Situasi/kondisi (kebutuhan zaman yang Allah tunjukan).
“ Visi-MU, Aku, dan Zamanku.”
Mengapa visi itu penting.
 Memberi arah yang jelas terhadap sasaran dan tujuan.
 Memberi semangat atau gairah, kekuatan dan teguh menghadapi tantangan (Kis 26:19).
 Menolong dan menentukan prioritas dalam pelayanan.
Siapa dan bagaimana memiliki visi.
 Orang yang telah dilahirkan kembali (Yoh 3:3, Yeh 36 : 25-27).
 Mengalami pertumbuhan secara progresif.
 Sharing dengan pendiri atau yang memiliki visi (sifat visi menular).
 Melalui Kelompok kecil.
Jadi, apa visi pelayanan mahasiswa.
Visi Pelayanan mahasiwa mencakup:
 Visi Umum (keselamatan dalam rangka pembentukan murid Mat 28:19-20 ) mahasiswa sebagai objek kasih Allah adalah bagian dari kerinduan Allah menjadikan segala bangsa murid-Nya.
 Kesempatan pembinaan/pemuridan yang efektif (mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa, masyarakat dan gereja ) Amsal 22:6. (student initiative and responsibility)
 Pelayanan yang strategis untuk bermisi secara holistik. (holistic mission)
 Menciptakan ke esa-an gereja dengan ciri interdenominasi dan berperan sebagai para church. (Efesus 4:3-6).
Dengan dasar ini lahirlah visi seperti visi Dr.Isabelo Magalit “saya memimpikan dari dunia mahasiswa ini akan datang pria dan wanita yang mengasihi Tuhan lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun juga.”
Visi dan panggilan menjadi pengurus.
• Beban untuk mengerjakan visi ini di dasari oleh sebuah “melihat dengan belaskasihan” (Mat 9:36)
• Hidup di dalam harga “Salib” sebagai seorang Visioner. (Luk 14:27, Mat 8:20, Kis 26:19 bd Fil 3:10).
• Komitmen untuk hidup mengambil bagian di dalam penggenapan Visi kerajaan Allah bagi dunia ini. (Fil 1:21-22, bd. 3:14)

2. Misi Pelayanan Mahasiswa.
Untuk mewujudkan visi maka satu hal yang sangat berkaitan dengan itu adalah aksi atau gerakan. Visi yang teguh didasari oleh gerakan dan misi.
Jadi, Apa misi pelayanan Mahasiswa?
1. Pemberitaan Injil.
Penginjilan adalah dasar dari gerakan pertumbuhan iman. Tanpa kelahiran kembali dan tanpa pertobatan usaha pembinaan tidak akan berdampak. Penginjilan dapat dilakukan dengan persahabatan pribadi, PIPA atau dengan KKR. (Evangelism Movement)
2. Pembinaan.
Menjadikan kehidupan Kristus semakin nyata dalam kehidupan mahasiswa. Pembinaan dilakukan terhadap pengetahuan, karakter, nilai-nilai Kristiani dan keterampilan melalui Kelompok kecil sebagai strategi utama. (Small Group Movement)
3. Pelipatgandaan
Membentuk dan melatih kepemimpinan dengan segala bentuk ketrampilan melalui memotivasi mahasiswa untuk menggali potensi dengan mengembangkan diri. Bentuk utama pelipatgandaan ini ialah keteladanan, pelatihan, Kamp, dll. (how to Help others reach their full potential (Student Initiative and Responsibelitiy) )
4. Pengutusan
Mengutus mahasiswa binaan ke ladang pelayanan dimulai dari sesama mahasiswa kekampus kemudian ke berbagai aspek kehidupan kampus. Pengutusan juga dilakuakan di dalam dunia alumni dengan mempersiapkan ke berbagai ladang pelayanan seperti propesi, gereja, dan Misi dunia. (Holistic Mission)

3. Menjaga agar pelayanan mahasiswa tetap berada pada visi dan misinya.
1. Menciptakan / memelihara kesinambungan visi.
 Menulakan visi dari pribadi ke pribadi
Walau visi dapat dijelaskan di atas kertas atau rekaman namun transfer visi selalu melibatkan manusia karena visi akan menjadi sesuatu yang menguasainya. Tentu saja firman Tuhan dan doa merupakan kunci dalam proses ini, tetapi suasana yang bersifat pribadi ini pun adalah kunci penting lainnya.
 Tanggungjawab khusus generasi kita
Suatu gerakan dapat berkembang dan berhasil dikarenakan adanya orang-orang yang memahami maksud kekal Allah dan bagaimana menerjemahkan ke dalam realita sehari-hari “ The right man on the right time ”. Dunia mahasiswa adalah dunia yang dinamis, jadi kita tidak bisa mensakralkan suatu cara dan metode tertentu walau telah berhasil sebelumnya.
 Perlunya mengorganisir para alumni dan pendukung.
Pelayanan mahasiswa yang sedang bertumbuh sangat perlu menjaga perlu menjaga hubungan dengan alumni dan para pendukung, pemimpin gereja, pemimpin universitas dsb.
 Pelayanan mahasiswa sebagai bagian dari realitas yang luas.
Kita perlu menyadari bahwa pelayanan mahasiswa adalah bagian dari realita yang lebih luas yaitu kerajaan Allah dan umat Allah. Hal ini membuat kita memiliki pengertian tentang sejarah dan menjadi rendah hati. Perlu dijaga agar sikap yang menganggap bahwa hanya pekerjaan Tuhan yang sedang kita kerjakan yang paling penting, yang paling strategi dan paling patut untuk dihargai dan didukung. Kita harus selalu mengingat Tuhan bekerja di seluruh dunia pada setiap waktu dan tempat, dan kita hanya bagian kecil dari realita tersebut, tetapi tidak berarti kita tidak penting. Hal ini justru menghubungkan pelayanan kita dengan apa yang sedang dikerjakan orang lain diseluruh dunia. Sehingga ketika kita meninggalkan kampus dan pelayanan mahasiswa akan terjadi suatu transisi yang alamiah di dalam diri kita untuk terjun kedalam dunia alumni, aktivitas gereja, dan bersaksi bagi Kristus di masyarakat luas.
2. Melakukan pengamatan/penenlitian/analisa/yang melahirkan solusi/revisi.


Penutup:
Biarlah kita juga akan berkata seperti Paulus: Tetapi saya tidak peduli dengan hidup saya ini, asal saya dapat menyelesaikan tugas yang dipercayakan Tuhan Yesus kepada saya dan asal saya setia sampai pada akhir hidup saya untuk memberitakan Kabar Baik itu tentang rahmat Allah. Kis 20:24

Sumber:
1. Our Heritage (Keunikan dan Kekayaan Pelayanan Mahasiswa), Perkantas 2006.
2. Kumpulan makalah Pelayanan Mahasiswa, Perkantas.

peduli bangsa..

Opini

Pasca Pilgubsu: Menantikan seorang pemimpin yang melayani.
Oleh: Prasasti Perangin-angin, S.Pd

Kami Siap melayani. Demikianlah moto Syampurno, pemenang Pilgubsu 2008. Melayani merupakan terjemaahan dari serve. Seorang yang sedang melayani disebut sebagai seorang pelayan (servant). Servant juga diartikan sebagai seorang abdi. Seorang yang mengabdikan dirinya kepada seseorang, atau sesuatu tugas dan tanggungjawab. Pelayan di dalam mengerjakan tugasnya dan tanggungjawabnya, bisanya akan hanya tunduk kepada tugas dan tanggungjawab tersebut. Hanya tunduk kepada ’tuan’ yang memberikan tanggungjawab atau tugas tersebut.
Di lihat dari defenisi ini maka bisa kita pastikan, itu merupakan sebuah pekerjaan atau berstatus rendah. Mengingat pada umumnya setiap orang akan mencari sesuatu pangkuan yang lebih tinggi. Sesuatu jabatan, sesuatu posisi yang dengannya ia akan menjadi seoarng atasan yang siap memerintah. Siap memberikan sebuah instruksi dan bawahanya akan mengerjakannya. Dan pada umunya seorang akan lebih suku menjadi bos daripada menjadi pelayan.
Tetapi meskipun demikian metode kepemimpinan yang melayani (servant hood leadership) banyak ditawarkan di dalam dunia kepemimpinan. Karena pemimpin yang berjiwa seorang pelayan akan diterima dan dihormati oleh pengikutnya. Sebagai contoh pada beberapa waktu yang lalu di Paraguay, seorang Uskup memenangkan pemilihan Presiden. Bisa kita simpulkan seorang Usukup bisa mengalahkan partai yang sudah selama berpuluh tahun berkuasa, tentunya sangat dipengaruhi oleh karkter dan hidupnya yang dekat dan melayani masyarakat.
Pemimpin Sumut telah terpilih, terlepas dari tingkat partisipasi pemilih yang sangat rendah dan banyak pemilih memilih jalan Golput. Tanggal 24 April 2008, KPU telah menuntukan pilihan kepada Syampurno sebagai yang terbaik dari calon yang lain. Dengan mengumpulkan 28,31% pasangan ini mengunguli pasangan Triben 21,69%, Waras 17,4%, PASS 16,58%, dan UMMA 16%. Atau bisa kita simpulkan dari seluruh pemilih yang mengunakan hak pilihnya pada tanggal 16 April yang lalu, Bang Syamsul dan Mas Gatot adalah yang terbaik di hati masyarakat Sumut dari calon yang ada. Sekedar mengingatkan sesuai dengan kesepakatan ke-5 calon pada awal kampanye maka hasil itu seharusnyalah bisa diterima oleh setiap calon yang mengumpulkan suara lebih sedikit atau kalah.
Di tetapkannya Syamsul dan Gatot menjadi Gubsu dan Wagubus 2008-2013 suka ata tidak suka, seluruh warga propinsi ini harus menyatakan berharap akan perwujudan pembangunan Sumut kedepan. Hal ini tentunya sangat penting, apalagi mengingat keberagaman di Sumut.Tanpa ada kesatuan langkah dan gerak maka para pemimpin ini tidak akan bisa mewujudkan apa yang menjadi program dan visi mereka. Menerima mereka sebagi pemimpin adalah satu sikap positif yang bisa ditunjukan seluruh penduduk Sumut.
Visi yang ditawarkan pasangan ini sewaktu kampanye cukup sederhana yakni warga bisa makan, sehat dan bersekolah. Dengan motto: kami siap melayani. Jika dilihat dari itu berarti mereka akan menunjukan jati diri sebagai seorang yang melayani. Untuk mewujudkan masyarakat Sumut yang bisa makan, bisa sekolah dan sehat sebagai seorang pelayan. Seorang pelayan yang akan mengabdikan dirinya kepada tugas dan tanggungjawab yakni membawa masyarakat Sumut bisa makan, bisa sekolah dan hidup sehat.
Mengingat pangalaman rata-rata pemimpin di republik ini, apakah Syampurno akan bisa menjalankan kepemimpinan yang melayani ini. Ataukah Sahabat semu suku ini juga akan berada dibarisan pemimpin itu. Pemimpin yang ”pikun” karena lupa akan janjinya. Janji yang selama ini di ucapakan itu hanyalah sebuah retorika berbicara layaknya sebagai calon ataukah itu memang lahir dari kerinduan untuk membangun Sumut. Atau pemimpin yang Yes ’bos’ juga.
Bagaimana menjadi pemimpin yang melayani. Memimpin dengan menunjukan komitment untuk menjadi seorang pemimpin yang rela menjadi pelayan masyarakat. Pemimpin yang bukan melayani dirinya sendiri tetapi melayani masyarakat sebagai bagian dari tanggung-jawab publik terhadap kepercayaan yang diberikan rakyat. Pemimpin yang bukan hanya duduk di ”menara gading”, tetapi yang rela bersama-sama dengan para petani yang terjepit karena mahalnya harga pupuk. Rela menjadi sahabat para pedagang yang semakin terpinggirkan karena munculnya tempat perbelanjaan yang modern. Menjadi teman bagi para guru yang mungkin hanya bergaji 500 ribuan sebulan padahal sudah sarjana.
Seorang pemimpin yang bukan hanya datang dan dikenal masyarakat sewaktu ada acara peresmian dan kegiatan-kegiatan besar saja. Tetapi pemimpin yang di dalam setiap kondisi, penduduk Sumut ini bisa merasakan kehadiranya. Seorang pemimpin yang akan menjawab kebutuhan pendidikan, kesehatan dan aspek-aspek yang lain. Atau dengan kata lain pemimpin yang memberikan rasa nyaman dan mendatangkan kesejahteraan kepada masyarakat Sumut.
Yang tidak kalah penting adalah masyarakat menginginkan pemimpin yang menjadi musuh para koruptor. Menjadi pemimpin yang menjadi teladan bagi bawahannya. Sehingga para bawahan takut untuk berbuat sesuatu yang salah. Pemimpin yang berkomitmen memperjuangkan hak-hak yang terpinggirkan. Perubahan yang senantiasa dirindukan rakyat akan terjadi jika pak Syamsul dan Mas Gatot memiliki kepemimpianan yang melayani. Jadi jawaban apa yang akan ’kami siap melayani’ berikan?
Apakah kertas jawaban yang selama ini ditunjukan oleh para pemimpin kita juga akan menjadi kertas jawaban mereka? Kertas jawaban yang di dalamnya tertulis korupsi merajalela, para petani berkata harga pupuk naik, infrastruktur amburadul, rakyat misikin tidak bisa sekolah, rakyat misikin makan obat kadaluarsa atau kertas jawaban apa yang tertulis. Tidak usah muluk-muluk Pak, Mas, sebagai seorang pelayan masyarakat semoga rakyat akan makan, rakyat sehat dan bersekolah. (Penulis bekerja sebagai staf Pembina mahasiswa di Perkantas Medan, aktif sebagai anggota Perhimpunan Suka Menulis (Perkamen) di Medan)

Prasasti Perangin-angin, SPd


Jl.Sei Merah No.6 Medan
081361593182

Selasa, 25 Maret 2008

Saatnya Peduli Bangsa

Siapa Pantas Memimpin Sumut?
Oleh: Prasasti Perangin-angin, S.Pd

Tidak terasa Provinsi Sumatera Utara akan diadakan regenerasi kepemimpinan. Gubernur baru akan dipilih melalui Pilgubsu 2008. Namun, sebelum pemungutan suara pada bulan April nanti sepertinya seluruh rakyat Sumut sudah mengetahui calon yang harus dipilih. Hal ini terlihat ketika di setiap sudut propinsi ini dihiasi oleh gambar dan poster mereka yang harus dipilih. Terlepas dari kenapa gambar itu terpangpang sebelum kampanye, kita melihat bahwa para calon sudah menawarkan sebuah janji dan tawaran yang katanya dipastikan akan membawa perbaikan bagi kondisi Sumut saat ini.
Waktu untuk “memamerkan” diri ini, merupakan sebuah hal yang sudah terbiasa dilakukan jika ada pilkada atau pemilu. Seyogianya memang setiap calon akan menawarkan sesuatu hal untuk menciptakan perubahan. Dan itu mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, baik aspek ekonomi, keamanan, sosial, kesehatan dan aspek lainnya.

Fenomena Golput
Namun sebelum Gubernur terpilih April nanti, sepertinya terlihat adanya bayang-bayang golput di sebagian masyarakat. Masyarakat tersebut menyatakan bahwa visi dan misi dari para calon itu hanyalah sebatas retorika belaka. Hanya sebatas wacana. Meski hanya asumsi masyarakat, dari banyak komentar yang bisa kita tangkap, terlihat bahwa masyarakat memandang siapapun yang terpilih nanti toh akan seperti ini juga kondisinya. Tidak akan ada perubahan signifikan di Sumatera Utara. Beberapa warga masyarakat yang berkomentar bahwa mereka akan memilih golput menyatakan bahwa spanduk di kantor KPUD (komisi pemilihan umum daerah) yang menyatakan ”satu suara anda sangat bermanfaat untuk pembangunan Sumut” hanyalah sebuah “kebohongan publik”. Sebab siapapun yang terpilih, tidak akan mempengaruhi perubahan dan kemajuan Sumut.
Menangkap kesan apatis tersebut, kelihatannya wajar. Hal ini sangat beralasan jika melihat pengalaman dari berbagai hasil pilkada di daerah lain dan pemilu-pemilu sebelumnya. Setiap wakil rakyat yang dipilih sampai dengan pemilihan Presiden yang menawarkan pembangun dan perbaikan bangsa dan berjanji untuk berpihak kepada rakyat hanyalah juga sebatas wacana. Sebab realitanya, perubahan itu tidak kunjung terjadi bahkan rakyat semakin hari semakin “tercekik”. Peran sebagai ”penyambung lidah rakyat” oleh anggota DPR, entah kapan akan terealisasi. Begitu juga di masa kampanye, para kandidat berjanji akan menumpas korupsi dari negeri ini, tetapi korupsi semakin begitu terbuka di setiap sudut bangsa ini.
Tidak usah terlalu jauh untuk menemukan bukti dari kekecewaan masyarakat ini. Jika kita ‘rimang-rimangi’ hidup di negeri ini semakin hari semakin tidak jelaslah kemana para pemimpin negeri ini mengarahkannya. Apa tujuan bangsa ini tidak jelas. Di negeri inilah kita akan menemukan budaya tidak tahu malu, budaya preman dan budaya “democrazy”. Masyarakat lelah berbicara dan berpendapat. Harapan yang dibangun awalnya sangat besar tetapi kemudian sirna karena mereka yang terpilih biasanya akan segera melupakan janji-janjinya.
Apa boleh buat. Meski kita tidak setuju dengan golput, kita bisa memahami alasan beberapa warga masyarakat itu untuk tidak memberikan pilihannya nanti. Alasan di balik keengganan mereka menjatuhkan pilihan amat bisa diterima dan sering sekali memang benar adanya.

Profil
Jika dilihat secara sepintas dari kualifikasi ke-5 pasang calon Gubsu 2008 ini, mungkin kita bisa diyakinkan bahwa perubahan itu akan terjadi. Berbicara tentang pengalaman mereka, mereka adalah tokoh yang terbiasa terlibat di dalam kancah politik dan kepemimpinan di Sumatera Utaraa ini. Latarbelakang pendidikan mereka juga tidak jelek. Bahkan ada dari mereka memperoleh gelar Magister dan Doktor.
Tetapi mengapa masih ada keraguan memilih mereka? Apa yang membuat kesan apatis dan golput itu begitu menguat pada benak sekitar 8,4 juta calon pemilih? Atau pertanyaan sebaliknya, apa yang seharusnya dimiliki oleh para kandidat itu supaya masyarakat memberikan pilihan kepada mereka?
Tentu saja, masyarakat pertama-tama sangat menginginkan integritas. Itu yang paling penting dilihat oleh masyarakat. Jujur saja, integritas para calon belum bisa dirasakan oleh penduduk propinsi ini. Apa yang mereka tawarkan saat ini belum tentu akan terjawab seperti itu yang mereka lakukan masa mereka menjadi Gubernur. Beda sebelum terpilih dengan sudah terpilih. Alias dijanjikan “A” yang terealisasi nantinya malah “Z”. Dalam hal ini tentunya kita bukan pesimis akan perubahan integrity mereka. Tetapi melihat tidak adanya kekonsistenan di dalam masa sebelum kampaye ini adalah alasan jawaban akan pendapat itu. Lihatlah disetiap sudut kota dan propinsi ini semuanya dipenuhi dengan gambar calon yang sudah curi strart. Padahal hari kampaye baru dimulai 30 Maret. Bukankah ini gambaran sederhana dari ketidakkonsistenan itu?
Yang berikutnya, kita berpendapat bahwa jika ke-5 calon ini ingin memimpin Sumut maka dibutuhkan sebuah komitment untuk menjadi seorang pemimpin yang rela menjadi pelayan masyarakat. Pemimpin yang bukan melayani dirinya sendiri tetapi melayani masyarakat sebagai bagian dari tanggung-jawab publik terhadap kepercayaan yang diberikan rakyat. Pemimpin yang bukan hanya duduk di ”menara gading”, tetapi yang rela bersama-sama dengan para petani yang terjepit karena mahalnya harga pupuk. Rela menjadi sahabat para pedagang yang semakin terpinggirkan karena munculnya tempat perbelanjaan yang modern. Menjadi teman bagi para guru yang mungkin hanya bergaji 500 ribuan sebulan padahal sudah sarjana.
Seorang pemimpin yang bukan hanya datang dan dikenal masyarakat sewaktu ada acara peresmian dan kegiatan-kegiatan besar saja. Tetapi pemimpin yang di dalam setiap kondisi, penduduk Sumut ini bisa merasakan kehadiranya. Seorang pemimpin yang akan menjawab kebutuhan pendidikan, kesehatan dan aspek-aspek yang lain. Atau dengan kata lain pemimpin yang memberikan rasa nyaman dan mendatangkan kesejahteraan kepada masyarakat Sumut.
Yang tidak kalah penting adalah masyarakat menginginkan pemimpin yang menjadi musuh para koruptor. Menjadi pemimpin yang menjadi teladan bagi bawahannya. Sehingga para bawahan takut untuk berbuat sesuatu yang salah. Pemimpin yang berkomitmen memperjuangkan hak-hak yang terpinggirkan. Perubahan yang senantiasa dirindukan rakyat akan terjadi jika para calon memiliki kepemimpianan yang melayani. Jadi siapa yang pantas memimpin Sumut ke depan, adalah dia yang berjiwa seorang pelayan. Dengan komitmen penuh akan memberikan yang terbaik bagi Sumatera Utara.
Jika hal-hal di atas dimiliki dan direnungkan bagi para 5 calon Gubsu kita, saya yakin masyarakat akan menanggalkan keinginan mereka untuk mengabaikan hak memilih mereka. Masyarakat pasti akan tertarik dan melakukan pesta demokrasi ini bersama-sama. Bagaimanapun, yang namanya Pilgubsu, ini adalah pestanya masyarakat, dari, oleh dan untuk masyarakat. Alangkah sayangnya kalau masyarakat tidak terlibat secara penuh di dalamnya. (Penulis bekerja sebagai staf Pembina mahasiswa di Perkantas Medan, aktif sebagai anggota Perhimpunan Suka Menulis (Perkamen) di Medan)